SUBANG – KOSMI INDONESIA – Kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Jatimulya, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, mulai diramaikan dengan munculnya sejumlah gagasan pembangunan desa. Salah satunya datang dari Dedi, jurnalis yang resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon Kepala Desa Jatimulya, Rabu (2/9/2026).
Tak sekadar menawarkan pencalonan, Dedi membawa tujuh gagasan yang menurutnya perlu menjadi perhatian jika masyarakat memberikan amanah untuk memimpin Jatimulya.
Gagasan tersebut menyentuh sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan warga, mulai dari perbaikan irigasi pertanian, masa depan buruh tani di tengah mekanisasi, pengembangan desa wisata, pembangunan jembatan antardusun, keamanan permukiman, pelestarian budaya hingga komitmen menjalankan kontestasi tanpa politik uang.
Dedi mengatakan, keputusannya maju sebagai bakal calon kepala desa berangkat dari keinginan untuk mengabdikan diri sekaligus ikut menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Saya mendaftarkan diri sebagai bakal calon kepala desa karena ingin mengabdikan diri kepada masyarakat. Pengalaman sebagai jurnalis juga menjadi bekal untuk melihat persoalan dan mencari solusi,” ujar Dedi.
Irigasi Jadi Prioritas, Petani Jangan Dibiarkan Berjuang Sendiri
Sebagai wilayah yang memiliki potensi pertanian, persoalan pengairan menjadi salah satu perhatian utama Dedi.
Menurutnya, produktivitas sawah tidak hanya bergantung pada kemampuan petani, tetapi juga pada ketersediaan infrastruktur pengairan yang memadai.
Karena itu, ia mendorong adanya perbaikan saluran air menuju lahan pertanian serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten hingga pemerintah pusat.
“Jatimulya memiliki potensi besar di sektor pertanian dan menjadi salah satu desa yang berkontribusi terhadap produksi padi. Karena itu, persoalan pengairan harus menjadi perhatian,” katanya.
Menurut Dedi, irigasi yang baik bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Mekanisasi Tak Boleh Mengorbankan Buruh Tani
Di sisi lain, kemajuan teknologi pertanian juga menjadi perhatian. Mekanisasi memang membuat pekerjaan lebih cepat dan efisien, tetapi dampaknya terhadap buruh tani tidak boleh diabaikan.
Dedi menilai pemerintah desa harus mulai memikirkan masa depan buruh tani yang pekerjaannya berpotensi berkurang akibat penggunaan mesin pertanian.
Solusinya, menurut dia, bukan menolak teknologi, melainkan menyiapkan masyarakat agar mampu beradaptasi.
“Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat masyarakat kehilangan sumber penghasilan. Buruh tani perlu dibekali keterampilan agar bisa beralih ke pekerjaan lain,” ujarnya.
Ia mendorong pemerintah desa membuka akses pelatihan dan peningkatan keterampilan melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten maupun provinsi.
Sawah Tak Hanya untuk Bertani, Bisa Jadi Destinasi Wisata
Gagasan lain yang ditawarkan Dedi adalah mengembangkan potensi persawahan Jatimulya menjadi bagian dari desa wisata berbasis pertanian.
Hamparan sawah, aktivitas petani dan kehidupan pedesaan, menurutnya, memiliki potensi untuk dikemas menjadi daya tarik wisata tanpa harus menghilangkan fungsi utama lahan sebagai kawasan pertanian.
Dedi menyebut konsep tersebut terinspirasi dari pengembangan kawasan seperti Lembur Pakuan.
“Pertanian tetap menjadi sektor utama. Tetapi bagaimana aktivitas pertanian itu bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata dan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat,” katanya.
Konsep tersebut diharapkan tidak hanya mendatangkan pengunjung, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga, mulai dari kuliner, produk UMKM hingga jasa pendukung wisata.
Jembatan Rancamulya-Tanjung Salep Masuk Daftar Prioritas
Persoalan konektivitas antarwilayah juga menjadi bagian dari tujuh gagasan Dedi.
Ia menyoroti kebutuhan pembangunan jembatan yang menghubungkan Dusun Rancamulya dengan Dusun Tanjung Salep.
Menurutnya, keberadaan jembatan tersebut penting untuk memperlancar mobilitas warga sekaligus mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
“Pembangunan harus melihat kebutuhan masyarakat. Infrastruktur yang dibangun harus memberikan manfaat langsung bagi mobilitas dan aktivitas warga,” katanya.
Dedi menegaskan pembangunan desa harus disusun berdasarkan kebutuhan dan skala prioritas, bukan sekadar mengejar pembangunan fisik.
Permukiman Sudah Tertata, Keamanan Harus Diperkuat
Selain infrastruktur, keamanan lingkungan menjadi perhatian lain.
Dedi menilai kawasan permukiman di Jatimulya yang telah tertata perlu dipertahankan dan diperkuat dengan sistem keamanan yang lebih baik.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah penerapan One Gate System serta pemasangan CCTV di lingkungan permukiman.
“Untuk meningkatkan keamanan akan dilakukan program One Gate System dan pemasangan CCTV. Permukiman yang saat ini telah tertata dengan baik akan ditata dengan konsep budaya,” ujarnya.
Menurutnya, desa yang maju bukan hanya desa dengan pembangunan fisik yang baik, tetapi juga lingkungan yang aman, nyaman dan memiliki karakter budaya yang kuat.
Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya Ingin Dihidupkan Kembali
Yang menarik, pembangunan yang ditawarkan Dedi tidak hanya berbicara soal jalan, jembatan atau ekonomi.
Ia juga ingin menghidupkan kembali Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya, sebuah tradisi lokal yang dinilai mulai ditinggalkan.
Bagi Dedi, tradisi tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari identitas masyarakat sekaligus momentum mempererat silaturahmi dan rasa syukur atas hasil bumi.
“Budaya Ruwat Bumi Dangiang Jatimulya merupakan budaya Desa Jatimulya yang saat ini mulai dilupakan. Akan kembali digelar karena merupakan budaya yang memperkuat silaturahmi warga dan ucapan syukur kepada Allah atas hasil bumi,” katanya.
Bahkan, Dedi melihat tradisi tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari konsep desa wisata.
Jika dikemas dengan baik, Ruwat Bumi berpotensi menjadi agenda budaya tahunan yang menarik masyarakat dari luar desa sekaligus menggerakkan roda ekonomi warga.
“Ruwat Bumi juga berpotensi menjadi bagian dari program desa wisata yang mampu menyedot minat masyarakat dan menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Pilkades Tanpa Politik Uang
Gagasan terakhir yang menjadi perhatian Dedi justru berkaitan dengan bagaimana kontestasi kepala desa itu sendiri dijalankan.
Ia menyatakan komitmen untuk tidak menggunakan politik uang dalam meraih dukungan masyarakat.
Dedi berharap masyarakat memilih calon berdasarkan gagasan, rekam jejak serta kemampuan dalam menjawab persoalan desa.
“Jangan sampai pilihan masyarakat ditentukan karena uang. Saya ingin masyarakat memilih berdasarkan gagasan dan kepercayaan,” tegasnya.
Menurut Dedi, Pilkades seharusnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kontestasi harus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menentukan arah pembangunan desa untuk beberapa tahun ke depan.
Membawa Jatimulya ke Arah yang Lebih Terintegrasi
Tujuh gagasan yang dibawa Dedi pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: membangun Jatimulya secara lebih menyeluruh.
Pertanian tetap menjadi kekuatan utama, tetapi harus diikuti dengan perlindungan ekonomi bagi buruh tani, pengembangan potensi wisata, pembangunan infrastruktur yang tepat sasaran, lingkungan permukiman yang aman, serta pelestarian budaya lokal.
Bagi Dedi, pembangunan desa tidak cukup hanya dengan membangun secara fisik.
Desa juga harus mampu menjaga sumber penghidupan masyarakat, membuka peluang ekonomi baru, merawat budaya dan memastikan masyarakat menjadi bagian utama dari setiap proses pembangunan.
Kini, gagasan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Dedi sebagai bakal calon Kepala Desa Jatimulya. Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menentukan apakah gagasan tersebut layak mendapat kepercayaan untuk diwujudkan







