Jawa Barat – Kosmiindonesia.com – Kamis (22/1/2026) – Udara yang sejuk menjelang malam hari di lingkungan perumahan tempat tinggal Uchok Sky Khadafi, aktivis dari Center for Budget Analysis (CBA), tiba-tiba menjadi tegang ketika sebuah paket misterius ditemukan diletakkan tepat di depan gerbang rumahnya. Paket berukuran sedang, dibungkus dengan plastik hitam yang sedikit mengkilap di bawah sinar lampu jalan, ternyata berisi bangkai ayam yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pembusukan, disertai selembar kertas putih yang menjadi sarana untuk menyampaikan ancaman yang mengganggu ketenangan.
Menjelang waktu Magrib, ketika sebagian besar warga sedang menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadah, Uchok yang baru saja selesai menyelesaikan beberapa laporan analisis anggaran publik keluar dari rumahnya untuk mengambil surat yang biasanya diletakkan di depan gerbang. Namun, bukan surat atau bukti kerja yang ditemukannya, melainkan bungkusan yang memberikan kesan tidak menyenangkan dari aroma yang keluar serta bentuknya yang tidak teratur di dalam plastik.
“Saat pertama kali melihatnya, saya kira mungkin hanya sampah yang salah tempat atau paket kiriman yang salah alamat. Tapi ketika saya coba membuka sedikit bagian plastik, aroma yang menyengat langsung menghantui hidung saya – itu adalah bangkai ayam yang sudah tidak layak lagi,” ujar Uchok kepada sejumlah wartawan yang segera datang ke lokasi setelah ia melaporkan kejadian tersebut.
Tak berhenti sampai di situ, di antara bagian tubuh bangkai ayam yang tergeletak acak, Uchok menemukan selembar kertas bergaris yang tampaknya dicetak menggunakan mesin tik atau printer sederhana. Tulisan hitam yang jelas terbaca di atas kertas menyampaikan pesan ancaman yang tidak ambigu: “Berhati-hatilah dalam menulis dan berkomentar di media. Jika ingin keselamatan keluarga Anda tetap terjaga, hentikan semua yang kamu lakukan.” Tulisan tersebut tidak ditandatangani oleh siapapun, namun pesannya sangat jelas menyasar kepada aktivis yang telah selama bertahun-tahun menggeluti analisis dan pengawasan anggaran negara ini.
Dinding rumah Uchok yang berwarna krem dengan pagar besi hitam yang kokoh seolah menjadi saksi bisu akan aksi intimidasi yang terjadi di malam hari tersebut. Beberapa tetangga yang mendengar kabar segera datang untuk memberikan dukungan, sebagian di antaranya menyatakan keheranan dan kekhawatiran karena lingkungan perumahan yang biasanya tenang dan aman tiba-tiba menjadi tempat terjadinya kejadian yang mengganggu.
Menurut Uchok, teror dengan menggunakan bangkai ayam dan pesan ancaman tersebut bukanlah sekadar aksi sembarangan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Ia menilai bahwa hal ini merupakan bentuk yang jelas dari upaya untuk membatasi kebebasan berekspresi, sekaligus mencoba membungkam suara kritis yang datang dari kalangan masyarakat sipil yang konsisten mengawasi jalannya pengelolaan keuangan negara.
“Selama ini, saya dan rekan-rekan di CBA fokus pada hal yang sederhana: memastikan bahwa setiap rupiah uang rakyat yang digunakan dalam anggaran negara, baik di instansi pemerintahan, BUMN, maupun BUMD, benar-benar digunakan untuk kepentingan publik dan tidak mengalami penyimpangan apapun,” jelasnya sambil menunjukkan beberapa berkas laporan yang telah ia hasilkan sebelumnya. Laporan-laporan tersebut antara lain membahas dugaan korupsi dalam proyek infrastruktur, penyalahgunaan anggaran bantuan sosial, hingga tidak transparansinya alokasi dana di beberapa perusahaan milik negara.
Dengan tatapan yang tegas dan suara yang mantap, Uchok menegaskan bahwa ancaman semacam itu tidak akan membuatnya mundur atau menyurutkan tekadnya dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas anggaran publik. Ia menyatakan bahwa perjuangan untuk memastikan keadilan dalam pengelolaan keuangan negara adalah tanggung jawab setiap warga negara yang peduli, dan ia tidak akan membiarkan diri serta keluarga dirugikan hanya karena melakukan hal yang benar.
“Saya tahu bahwa apa yang saya lakukan tidak selalu disukai oleh sebagian pihak. Namun, saya tidak akan pernah berhenti hanya karena ada orang yang mencoba mengintimidasi saya dengan cara yang tidak senonoh seperti ini. Keluarga saya juga mendukung penuh apa yang saya lakukan, dan kita semua siap menghadapi segala konsekuensinya,” ujarnya dengan keyakinan yang tercermin dari wajahnya.
Uchok menduga kuat bahwa aksi intimidasi yang menimpanya ini memiliki hubungan erat dengan aktivitasnya selama ini yang kerap mengangkat isu-isu sensitif terkait dugaan penyimpangan dan korupsi anggaran. Beberapa waktu terakhir, ia baru saja merilis laporan analisis yang mengungkapkan dugaan praktik tidak benar dalam pengalokasian anggaran di sebuah BUMN besar yang bergerak di sektor energi, serta menyampaikan komentar di beberapa media massa mengenai kebijakan anggaran yang dianggap kurang menguntungkan bagi masyarakat bawah.
“Saya rasa tidak ada lain alasan mengapa saya menjadi target seperti ini, kecuali karena laporan-laporan dan komentar saya yang menyentil pihak-pihak yang mungkin merasa terganggu dengan pengawasan yang kami lakukan,” tambahnya.
Setelah kejadian tersebut, Uchok segera melaporkan kepada kepolisian setempat. Petugas kepolisian yang datang ke lokasi telah melakukan pemeriksaan awal terhadap paket yang berisi bangkai ayam dan selembar kertas ancaman, serta mengambil beberapa bukti berupa foto dan catatan keterangan dari Uchok serta tetangga yang bersaksi. Pihak kepolisian juga telah memberikan jaminan bahwa akan melakukan penyelidikan secara mendalam untuk menemukan pihak yang bertanggung jawab atas aksi intimidasi ini.
Para kolega Uchok di Center for Budget Analysis juga telah mengeluarkan pernyataan dukungan, menyatakan bahwa kejadian ini tidak hanya menyerang individu tetapi juga menyerang prinsip kebebasan berekspresi dan peran masyarakat sipil dalam mengawasi negara. Mereka menekankan bahwa akan terus mendukung Uchok dalam menjalankan tugasnya dan akan semakin memperkuat upaya pengawasan anggaran publik dengan lebih profesional dan transparan.
Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, Uchok tetap menunjukkan sikap yang optimis dan tegas. Ia menyampaikan bahwa aksi intimidasi seperti ini justru akan menjadi dorongan bagi dirinya untuk bekerja lebih keras, serta menjadi bukti bahwa upaya pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat sipil memang sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa negara berjalan dengan baik dan bertanggung jawab kepada rakyatnya.
“Saya berharap bahwa kejadian ini tidak akan membuat orang lain takut untuk bersuara. Sebaliknya, semoga hal ini menjadi pengingat bahwa kita semua memiliki peran penting dalam membangun negara yang lebih baik, dan kita tidak boleh menyerah hanya karena ada yang mencoba menghalangi kita,” pungkas Uchok saat mengakhiri wawancara, sambil melihat ke arah gerbang rumahnya yang kini menjadi saksi akan perjuangan yang ia jalani.
