PATI – Kosmiindinesia.com – Di tengah derasnya informasi dan berbagai tuduhan yang menyelimuti nama Ashari, atau yang akrab disapa Abah AS, pemimpin Pondok Pesantren Ndholo Kusumo yang kini menjadi tersangka kasus tindak pidana asusila dengan puluhan santriwati, muncul suara yang selama ini tertutup rapat. Suara itu datang dari orang yang seharusnya paling dekat, paling tahu, dan paling memahami keseharian sosok yang dianggap “orang suci” tersebut: istrinya sendiri.
Melalui pengakuan yang menyayat hati dan penuh kepahitan, istri Ashari akhirnya membuka mulut, menceritakan sisi lain dari kehidupan di balik tembok pondok pesantren yang selama ini dianggap tempat berlindung dan menuntut ilmu. Pengakuannya ini sekaligus menjawab keraguan dan pertanyaan besar masyarakat: Apakah dia tahu? Apakah dia membiarkan? Dan mengapa dia diam saja selama ini?
Berikut adalah kisah lengkap yang diceritakan oleh istri Ashari, sebuah pengakuan yang mengungkap betapa kuatnya pengaruh doktrin, wibawa, dan ketakutan yang membelenggu dirinya bertahun-tahun lamanya.
“Kabar yang beredar tentang suami saya, Abah AS, memang sangat berat untuk saya jalani. Rasanya dunia seolah runtuh di depan mata saya sendiri. Setiap hari, banyak orang bertanya-tanya, menatap, dan berbisik: ‘Apakah benar istrinya tahu apa yang dilakukan suaminya selama ini di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo?’ Pertanyaan itu terus berulang, dan harus saya akui, jawabannya tidak sesederhana yang orang bayangkan,” begitu kalimat pembuka yang ia sampaikan dengan nada penuh kepedihan.
Dengan mata berkaca-kaca, ia mengakui bahwa ada saat-saat di mana matanya sendiri melihat hal-hal yang tidak wajar, hal yang seharusnya tidak terjadi di tempat yang menjunjung tinggi norma dan agama.
“Jujur, ada saat-saat di mana saya melihat hal yang tidak biasa. Hal yang membuat dada saya sesak, tapi mulut saya terkunci rapat. Pernah suatu kali, saya masuk ke dalam kamar dan mendapati Abah sedang berduaan dengan salah satu santriwati. Saat itu, hati saya hancur, kecewa, marah bercampur baur. Tapi percayalah, saat itu saya tidak bisa marah. Bukan karena saya setuju, bukan karena saya mengizinkan, tapi ada rasa sungkan dan rasa takut yang luar biasa besar menyelimuti seluruh jiwa dan raga saya,” ungkapnya mengingat kembali momen kelam itu.
Bagi orang luar, melihat kejadian seperti itu tentu akan langsung meledak marah atau melapor. Namun baginya, di saat itu, hal itu adalah sesuatu yang mustahil dilakukan. Ada tembok besar yang menghalangi dirinya untuk bertindak: tembok wibawa dan keyakinan yang sudah tertanam begitu lama.
Pertanyaan yang paling sering dilontarkan publik adalah: “Kalau tahu, kenapa diam saja?” Pertanyaan itu dijawabnya panjang lebar, mencoba menjelaskan kondisi psikologis dan tekanan batin yang ia alami selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang sosok Ashari.
“Mungkin sulit sekali dipahami oleh orang luar, mungkin dianggap lemah atau tidak peduli. Tapi inilah kenyataan pahit yang kami jalani di dalam pondok ini. Di sini, Abah dianggap bukan orang sembarangan. Beliau bukan sekadar pemimpin, bukan sekadar suami, atau sekadar pengasuh. Beliau diyakini memiliki kemampuan supranatural, dianggap sebagai ‘wali’, orang suci, yang ucapannya adalah perintah, kehendaknya adalah kebenaran, dan apa yang beliau lakukan selalu dianggap benar dan tidak boleh dipersoalkan,” jelasnya dengan nada pasrah.
Ia menegaskan bahwa doktrin itu ditanamkan begitu kuat, mendalam, dan merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan sehari-hari. Hal itu tidak hanya berlaku bagi para santri, warga sekitar, atau pengikutnya, tetapi juga berlaku untuk dirinya sendiri sebagai istri.
“Doktrin itu begitu kuat menguasai pikiran semua orang, termasuk saya. Saya merasa seolah-olah saya tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan. Rasanya seperti berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar, lebih sakti, dan lebih berkuasa. Bagaimana saya bisa melapor atau melawan, kalau dalam pandangan semua orang di sini beliau adalah sosok yang suci? Siapa yang akan percaya pada saya kalau saya bicara? Saya merasa terbelenggu, terkungkung, dan tidak berdaya sama sekali,” lanjutnya.
Ia pun mengakui fakta bahwa ia sering berada di sekitar lokasi kejadian, berada di lingkungan pondok, melihat interaksi-interaksi yang ganjil, namun keterbatasan mental dan rasa hormat berbalut rasa takut membuatnya serasa tidak ada.
“Memang benar, saat kejadian-kejadian itu berlangsung, saya sering berada di sekitar pondok. Saya ada di sana secara fisik. Tapi di hadapan wibawa, di hadapan klaim-klaim kesucian dan kehebatan yang selalu beliau sampaikan dan ajarkan kepada kami semua, saya merasa tidak berdaya. Saya seperti patung yang hanya bisa melihat, mendengar, dan diam. Semua dikemas dengan dalil-dalil agama, dengan alasan pengobatan, pendekatan rohani, atau keistimewaan tertentu, sehingga saya pun lama-kelamaan terbiasa, meski hati kecil saya selalu merasa ada yang salah,” akui wanita itu.
Kini, masa-masa itu telah berlalu. Sosok yang diagung-agungkan itu telah jatuh. Ashari ditangkap di Wonogiri dan kini ditahan di Polresta Pati untuk menjalani proses hukum atas dugaan perbuatan tercela yang memakan banyak korban. Dan bagi sang istri, kenyataan yang terungkap justru jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan atau lihat sendiri.
“Sekarang, setelah Abah ditangkap dan dibawa ke sini, saya hanya bisa diam dan pasrah menerima segala akibatnya. Tapi saat saya mendengar laporan bahwa korbannya mencapai 50-an anak didik kami… hati saya benar-benar hancur lebur. Rasanya sakit sekali mendengarnya. Saya tidak menyangka, atau mungkin saya tidak mau menyangka, bahwa dampak dan perbuatan beliau sejauh itu, sedemikian banyaknya orang yang menjadi korban, sedemikian lamanya hal ini berlangsung,” ucapnya dengan suara parau.
Ia mengingat kembali bahwa kasus ini sebenarnya sudah mulai tercium, sudah ada yang angkat bicara sejak tahun 2024 lalu. Namun, kekuatan pengaruh dan nama besar yang dibangun Ashari seolah mampu menutup-nutupi segalanya hingga akhirnya kebenaran ini pecah juga ke permukaan.
“Kasus yang sudah muncul sejak tahun 2024 ini akhirnya terbuka lebar. Dan sekarang, semua orang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pagar pondok itu. Saya mengerti, saya sangat paham, bahwa masyarakat banyak yang menyalahkan saya. Banyak yang bilang saya tahu tapi membiarkan, banyak yang menganggap saya bagian dari kejahatan itu karena diam saja. Saya terima segala pandangan itu, saya terima segala cacian itu sebagai konsekuensi dari ketidakberdayaan saya,” ujarnya jujur.
Namun sekali lagi, ia menegaskan bahwa ketidaktahuan bukanlah alasan utamanya, melainkan tekanan psikologis, doktrin, dan rasa takut yang menindih dirinya bertahun-tahun lamanya.
“Namun, inilah kenyataan pahit yang kami hadapi di bawah pengaruh doktrin yang sangat kuat. Bukan hanya saya, banyak orang di sana yang mengalami hal sama: percaya, hormat, takut, dan merasa beliau tidak mungkin berbuat salah. Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda. Doktrin itu runtuh sudah, kesucian itu ternyata palsu belaka,” tegasnya.
Di akhir perbincangannya yang penuh kepedihan itu, istri Ashari menyatakan bahwa dirinya kini telah melepaskan segalanya kepada hukum. Ia tidak lagi berniat membela atau menutupi apa pun, karena ia pun merasa menjadi korban dari kebohongan besar yang dibangun suaminya sendiri.
“Sekarang, biarlah proses hukum yang berjalan sebagaimana mestinya. Saya tidak akan lagi bicara banyak, saya tidak akan lagi membela. Biarkan kepolisian, pengadilan, dan undang-undang yang berbicara. Satu-satunya harapan saya sekarang adalah keadilan yang seadil-adilnya, keadilan yang sesungguhnya bagi semua santriwati yang menjadi korban, bagi anak-anak didik kami yang hatinya terluka, yang masa depannya ternoda, dan jiwanya terguncang karena perbuatan yang tidak seharusnya terjadi,” ucapnya berharap.
Ia juga memohon maaf atas ketidakberdayaannya, atas kegagalannya melindungi lingkungan sekitar, dan atas segala kekhilafan yang terjadi di bawah tanggung jawab suaminya.
Cerita ini menjadi potret kelam sekaligus pengingat keras bagi masyarakat luas: betapa berbahayanya kekuasaan yang tidak terkontrol, betapa mematikannya doktrin yang dibawa ke jalan yang salah, dan betapa banyak pihak yang bisa menjadi korban, tidak hanya mereka yang menjadi sasaran langsung, tetapi juga orang-orang terdekat yang terjebak dalam lingkaran kebohongan dan ketakutan yang mencekam.
