Tangerang – Kosmiindonesia.com – sedihan kadang tidak datang seperti badai yang menerjang dengan keras, tapi seperti kabut yang perlahan menyelimuti landasan udara—dingin, mengaburkan pandangan, dan membuat jalan menjadi tidak jelas. Di tengah kabut kesulitan itu berdiri Khairun Nisya, seorang wanita berusia 23 tahun asal Palembang yang memiliki wajah cantik namun membawa beban kebohongan yang beratnya melebihi batas bagasi kabin pesawat. Ia bukan seorang kriminal yang ingin merusak atau mengambil keuntungan dari orang lain; ia hanya seorang anak yang terlalu ingin pulang ke rumah dengan status sebagai “orang berhasil” di mata orang tuanya.
Data dan fakta selalu berbicara dengan jujur, bahkan ketika hati tak sanggup menerima kenyataan. Nisya sempat dengan penuh semangat mendaftar menjadi calon pramugari di maskapai penerbangan Batik Air. Ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri—dari melatih bahasa Inggris, mengikuti kursus keterampilan pelayanan, hingga menjaga penampilan fisik dengan baik. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan; ia tidak lolos pada tahap seleksi akhir.
Bagi sebagian orang, kegagalan bisa menjadi batu loncatan untuk mencoba lagi. Namun bagi Nisya, rasa malu yang muncul setelah mengetahui hasil seleksi itu seperti jurang yang dalam, membuatnya takut untuk memberitahukan kenyataan kepada orang tua yang telah dengan bangga mendukung setiap langkahnya. Takut mengecewakan kedua orang tuanya yang selalu berharap ia bisa menjadi pramugari, Nisya memilih jalan yang keliru namun ia anggap sebagai satu-satunya cara untuk menghindari kekecewaan keluarga: menyamar sebagai pramugari Batik Air.
Ia membeli seragam pramugari, name tag dengan nama dan nomor identitas palsu, serta koper yang biasanya digunakan oleh awak kabin melalui salah satu platform belanja online. Setiap detail penampilan ia siapkan dengan cermat, hingga tampak seperti seorang pramugari yang sesungguhnya.
Kasat Reskrim Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, menjelaskan bahwa motif di balik tindakan Nisya sangat sederhana namun menyayat hati. “Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya bahwa dia telah menjadi pramugari Batik Air. Ia merasa bahwa dengan menjadi pramugari, ia bisa membuat orang tuanya bangga dan tidak mengecewakan mereka,” ujar Kompol Yandri dalam keterangannya kepada awak media.
Menurut informasi yang diperoleh, Nisya awalnya berencana hanya mengenakan seragam tersebut saat meninggalkan rumah di Palembang dan menuju bandara. Ia berniat untuk berganti pakaian menjadi pakaian penumpang setelah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, karena ia sebenarnya membeli tiket sebagai penumpang reguler untuk bepergian ke Jakarta. Namun, jadwal keberangkatan pesawat yang mepet membuatnya tidak sempat melakukan pergantian pakaian di bandara asal. Akhirnya, ia terpaksa naik pesawat dengan tetap mengenakan seragam pramugari Batik Air.
Penampilannya yang rapi dan mengenakan seragam maskapai membuat beberapa petugas di bandara asal menyangka ia adalah anggota kru tambahan (extra crew) yang akan melakukan penerbangan. Ia pun lolos pemeriksaan awal dan berhasil masuk ke dalam kabin pesawat. Namun, kebohongan yang dibangun dengan cermat mulai runtuh ketika salah satu pramugari sesungguhnya menanyakannya tentang tugas dan prosedur kerja yang harus dilakukan oleh awak kabin. Nisya tidak mampu menjawab pertanyaan dasar tersebut dengan benar, sehingga membuat pihak awak pesawat curiga terhadap identitasnya.
Setelah menyadari bahwa ada orang yang menyamar sebagai pramugari di dalam kabin, pihak awak pesawat segera melakukan koordinasi dengan petugas Keamanan Udara (AVSEC) di Bandara Soekarno-Hatta. Saat pesawat mendarat dan penumpang mulai turun, petugas AVSEC telah siap untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap Nisya.
Ia langsung ditemui dan diminta untuk menunjukkan identitas serta surat izin sebagai anggota awak kabin. Ketika tidak mampu memberikan dokumen yang sah dan akhirnya mengaku bahwa ia bukan pramugari Batik Air, Nisya dibawa ke ruang penyelidikan untuk diberikan pemahaman terkait tindakan yang telah dilakukannya.
“Secara teknis, ia memang membeli tiket sebagai penumpang dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan penerbangan atau penumpang lainnya. Namun, penyamaran sebagai anggota awak kabin maskapai penerbangan merupakan pelanggaran terhadap peraturan keamanan udara yang berlaku,” jelas Kompol Yandri.
Pihak kepolisian menjelaskan bahwa kasus ini akan ditangani dengan pendekatan yang manusiawi, mengingat motif di balik tindakan Nisya bukanlah untuk merugikan pihak lain. Ia akan diberikan pembinaan dan pemahaman tentang pentingnya kejujuran serta konsekuensi dari tindakan menyamar sebagai pekerja di sektor penerbangan. Selain itu, pihak kepolisian juga akan menghubungi keluarga Nisya untuk memberikan penjelasan dan dukungan guna membantu menyelesaikan masalah yang ada.
“Sangat disayangkan bahwa ia merasa harus berbohong hanya untuk membuat orang tua bangga. Kita berharap kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi banyak orang bahwa kesuksesan tidak harus dilihat dari jabatan atau status tertentu, dan kejujuran adalah nilai yang tak ternilai harganya,” tambah Kompol Yandri.
