Bandung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar justru berujung petaka di Kabupaten Bandung Barat. Hingga Selasa (23/9/2025) pagi, tercatat 365 siswa dari berbagai sekolah di Kecamatan Cipongkor mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi paket makanan MBG.
Insiden ini menjadi kasus terbesar sejak program MBG diluncurkan secara nasional awal tahun 2025.
Gejala Bermula Seusai Jam Makan Siang
Keracunan mulai terdeteksi pada Senin (22/9/2025) siang. Sejumlah siswa dari SMK Pembangunan Bandung Barat (PBB), MTs Darul Fiqri, hingga SDN Sirnagalih mendadak mengeluhkan mual, pusing, muntah, hingga sesak napas. Bahkan sebagian korban mengalami diare parah disertai pendarahan.
”Awalnya kami kira hanya masuk angin biasa, tetapi jumlah siswa yang jatuh sakit semakin banyak. Akhirnya kami laporkan ke Puskesmas,” kata seorang guru SMK PBB yang enggan disebutkan namanya.
Menu yang disantap siswa saat itu berupa nasi, ayam, tahu, dan buah potong. Diduga, sebagian makanan yang dibagikan sudah tidak layak konsumsi.
Layanan Medis Darurat di Tiga Lokasi
Kepolisian Sektor Sindangkerta mencatat ada 365 siswa yang menjadi korban. Mereka ditangani di tiga lokasi berbeda:
- Puskesmas Cipongkor: 116 orang
- Posko Kecamatan Cipongkor: 236 orang
- Bidan Desa Sirnagalih: 13 orang
“Hingga Selasa pagi, korban masih terus berdatangan. Kami bersama aparat dan tenaga medis bekerja keras untuk memastikan penanganan berjalan cepat,” ujar Kapolsek Sindangkerta, Iptu Sholehuddin.
Di Posko Kecamatan Cipongkor, suasana penuh sesak. Puluhan siswa terbaring di atas tikar dengan infus terpasang. Para orang tua tampak panik mendampingi anak mereka.
BGN Turun Tangan: Operasional MBG Dihentikan Sementara
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, langsung bergerak cepat. Ia meninjau lokasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi penyedia makanan.
Dadan menegaskan, seluruh operasional MBG di Bandung Barat dihentikan sementara. “Saya sudah instruksikan agar layanan dihentikan dulu sambil evaluasi. Kami temukan ada kelalaian teknis karena SPPG langsung melayani skala besar tanpa uji coba bertahap,” katanya.
Menurut Dadan, standar operasional sebenarnya sudah jelas: makanan harus diproses maksimal 4–5 jam sebelum dibagikan, dan bahan baku wajib dari pemasok yang kredibel. Namun, dalam praktiknya, persiapan yang tergesa-gesa bisa menyebabkan celah fatal.
”SPPG ini seharusnya mulai dari skala kecil, dua atau tiga sekolah lebih dulu. Namun, mereka langsung melayani banyak sekolah sekaligus. Itu yang memicu kesalahan teknis,” ujarnya.
Apresiasi Penanganan, Tapi Ada PR Besar
Dadan mengapresiasi kerja sama lintas pihak—tenaga kesehatan, sukarelawan, kepolisian, hingga aparat kecamatan—yang sigap menangani kasus ini. Namun, ia juga menyoroti perlunya perbaikan sistemik.
”Koordinasi di daerah sudah baik, tetapi harus ada ketersediaan obat, fasilitas kesehatan, dan pengawasan lebih ketat. Kami tidak boleh lengah lagi,” tegasnya.
Bupati Bandung Barat: Keselamatan Korban Prioritas
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyampaikan keprihatinannya dan menekankan bahwa keselamatan siswa adalah prioritas utama.
”Kami meminta seluruh dinas terkait fokus penuh pada pemulihan para korban. Investigasi penyebab tetap berjalan, tetapi yang paling penting adalah nyawa dan kesehatan anak-anak kita,” ucap Jeje.
Pemkab Bandung Barat bersama BGN berkomitmen melakukan investigasi menyeluruh. Hasil uji laboratorium atas sampel makanan juga sedang ditunggu untuk memastikan penyebab pasti keracunan.
Pelajaran Pahit dari Program Bergizi Gratis
Program MBG digagas pemerintah pusat sebagai upaya menekan angka kekurangan gizi pada anak dan remaja. Namun, insiden di Bandung Barat ini menjadi alarm keras bahwa penyelenggaraan tidak boleh dilakukan secara serampangan.
Ahli gizi dari Universitas Padjadjaran, Dr. Retno Ayuningtyas, menilai kasus Cipongkor harus menjadi titik balik. ”Program MBG itu bagus, tapi tanpa sistem pengawasan rantai makanan yang ketat—mulai dari penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi—risikonya tinggi. Apalagi jika langsung skala besar,” katanya.
Menunggu Hasil Investigasi
Hingga berita ini diturunkan, ratusan siswa masih menjalani perawatan. Sebagian besar kondisinya mulai stabil, namun masih ada korban yang harus mendapatkan pengawasan intensif.
Polisi bersama tim kesehatan tengah mendalami dugaan kelalaian dalam penyimpanan dan distribusi makanan. Sementara itu, keluarga korban berharap kejadian serupa tidak terulang.
”Kami hanya ingin anak-anak sehat kembali. Jangan sampai ada korban lagi,” ujar Yayan (42), orang tua siswa yang dirawat di Puskesmas Cipongkor.
