TULANG BAWANG – Kosmiindonesi.com – Di tengah perjuangan memulihkan kejayaan budidaya udang, masyarakat Kampung Bratasena Adiwarna dan Bratasena Mandiri, Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, menggelar Istighosah dan doa bersama di Masjid Al Falah.
Kegiatan yang digelar secara swadaya ini diikuti dengan antusias oleh warga. Tidak sekadar ritual keagamaan, Istighosah menjadi momentum bagi petambak untuk mencurahkan harapan setelah bertahun-tahun terpuruk akibat berbagai persoalan budidaya.
Infrastruktur Rusak, Petambak Terpuruk
Kepala Kampung Bratasena Adiwarna, Subiyanto, dalam sambutannya mengatakan perjalanan petambak Bratasena tidaklah mudah.
Kerusakan infrastruktur di masa lalu menjadi pukulan berat. Pintu-pintu air yang rusak membuat pengaturan pasang surut tidak optimal. Kondisi diperparah abrasi di sejumlah titik dan jebolnya tanggul.
“Dampaknya, sistem tata air kawasan tambak rusak total. Air membawa material lumpur masuk ke sistem budidaya,” ujar Subiyanto.
Lingkungan perairan yang tidak stabil membuat risiko budidaya sangat tinggi. Petambak menebar benur dengan harapan panen, namun kerap berujung kegagalan. Jerih payah berbulan-bulan tidak jarang berakhir dengan kerugian.
Infrastruktur Dibenahi, Harapan Tumbuh Kembali Meski demikian, masyarakat tidak menyerah. Berbagai upaya pembenahan infrastruktur terus dilakukan.
“Alhamdulillah, infrastruktur yang rusak kini sudah banyak dibenahi. Harapan untuk memperbaiki tata air dan menghidupkan kembali budidaya mulai tumbuh,” kata Subiyanto.
Bagi warga Bratasena, perbaikan pintu air, tanggul, dan saluran bukan sekadar pembangunan fisik. Di balik itu, ada harapan ribuan keluarga untuk kembali mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan mengembalikan masa kejayaan tambak udang.
Khawatir Harga Anjlok Akibat Impor
Namun persoalan belum sepenuhnya selesai. Subiyanto juga menyoroti kekhawatiran warga terkait kebijakan impor udang yang sempat dilakukan pemerintah.
Menurutnya, bertambahnya pasokan udang di pasaran berpotensi menekan harga jika tidak diimbangi pengaturan yang tepat.
“Bagi petambak kecil, harga menentukan segalanya. Harga harus mampu menutup biaya benur, pakan, listrik, obat-obatan, dan tenaga kerja. Jika harga turun sementara biaya produksi tetap tinggi, petambak yang rugi,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat berharap setiap kebijakan terkait komoditas udang dikaji secara matang dengan mempertimbangkan kondisi riil petambak di lapangan.
Mengadu kepada Allah, Menguatkan Persaudaraan Di tengah persoalan tersebut, masyarakat memilih menguatkan ikhtiar spiritual. Malam itu di Masjid Al Falah, warga menundukkan kepala, memanjatkan doa memohon pertolongan Allah SWT.
Mereka berdoa agar usaha budidaya diberi keberkahan, kesehatan, keselamatan, dan kelancaran. Mereka juga memohon agar kawasan tambak kembali menjadi sumber kehidupan yang mensejahterakan keluarga.
“Mudah-mudahan melalui Istighosah malam ini, Allah SWT memberikan jalan keluar dan keberkahan, sehingga petambak Bratasena Adiwarna kembali sukses dan sejahtera,” pungkas Subiyanto.
Istighosah di Masjid Al Falah menjadi penanda bahwa perjuangan masyarakat Bratasena belum usai. Setelah melewati masa sulit akibat kerusakan infrastruktur dan lingkungan budidaya, kini dengan perbaikan yang mulai berjalan, mereka kembali menatap masa depan.
Doa agar harga udang tetap layak. Doa agar tambak yang bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan kehidupan dan harapan masa depan anak-anak mereka, kembali berjaya.
Penulis: Arfan
Editor: Arjun








