Lampung Timur – Kosmiindonesia.com – Sungguh menggembirakan! Bulan Januari 2026 telah tiba sebagai momen yang sangat dinantikan dengan antusiasme tinggi oleh seluruh komunitas nelayan di Desa Labuan Ratu, Kecamatan Pasir Sakti, Kabupaten Lampung Timur. Kegembiraan tersebut muncul karena musim tangkapan dua komoditas perikanan utama di daerah tersebut – cumi dan teri – telah resmi dimulai. Kedua jenis hasil laut ini bukan hanya sekadar sumber mata pencaharian utama bagi sebagian besar keluarga nelayan setempat, tetapi juga memiliki peran yang sangat penting dalam memperkuat perekonomian lokal. Nilai ekonomi yang dibawa oleh cumi dan teri telah lama menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi di wilayah pesisir Desa Labuan Ratu, menjadikan kedatangan musim tangkapan ini sebagai acara penting yang dinantikan oleh semua lapisan masyarakat terkait.
“Setiap tahunnya, kita selalu menunggu kedatangan bulan Januari dengan harapan yang besar. Musim cumi dan teri ini adalah saat dimana kita bisa mendapatkan hasil tangkapan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan meningkatkan pendapatan kita,” ucap Bapak Koteng, salah seorang nelayan berpengalaman yang telah menjelajahi perairan sekitar Desa Labuan Ratu selama lebih dari dua dekade.
Musim tangkapan cumi dan teri di perairan sekitar Desa Labuan Ratu biasanya datang dengan pola yang cukup teratur setiap tahunnya, yang telah diamati dan dicatat oleh para nelayan dari generasi ke generasi. Berkat pengalaman panjang yang mereka miliki selama bertahun-tahun bekerja di laut, para nelayan telah mampu mengembangkan keahlian khusus dalam membaca berbagai tanda-tanda alam yang menandakan kedatangan musim ini. Mulai dari perubahan warna air laut yang beralih dari kehijauan menjadi sedikit kemerahan atau kekuningan akibat adanya plankton yang menjadi makanan utama cumi dan teri, kedatangan jenis ikan pendamping seperti kembung atau layang-layang yang sering berenang bergerombol bersama dengan kedua komoditas tersebut, hingga pola pergerakan arus yang mulai menunjukkan arah tertentu dan kondisi cuaca yang khas dengan angin yang bertiup stabil dari arah selatan – semua menjadi petunjuk yang dipercaya dapat menunjukkan bahwa saatnya telah tiba untuk memulai aktivitas penangkapan cumi dan teri secara intensif.
Di dermaga Desa Labuan Ratu yang terletak di bibir pantai berpasir putih tersebut, suasana sejak seminggu sebelum musim resmi dimulai telah terasa sangat berbeda. Matahari yang mulai menyinari langit pada pukul enam pagi sudah menemukan dermaga yang dipenuhi oleh sosok-sosok nelayan yang sibuk dengan aktivitas persiapan mereka. Dari sudut kanan dermaga, terlihat sekelompok nelayan sedang duduk berlingkar di atas tikar yang disebarkan di tanah, tangan mereka dengan gesit dan cermat memperiksa setiap jahitan pada jaring pukat yang memiliki mata jaring dengan berbagai ukuran – mulai dari yang paling kecil untuk menangkap teri hingga yang lebih besar untuk cumi. Setiap bagian jaring yang terlihat sobek atau aus segera diperbaiki dengan menggunakan benang yang kuat dan tahan terhadap air laut, atau jika kerusakannya terlalu parah, bagian tersebut akan diganti dengan lembaran jaring baru yang telah disiapkan sebelumnya.
Di sisi lain dermaga, beberapa nelayan lain sedang fokus melakukan servis menyeluruh pada mesin tempel perahu mereka. Mesin-mesin yang biasanya berwarna biru atau merah tua tersebut dibongkar sebagian untuk memeriksa kondisi bagian dalamnya – mulai dari oli mesin, busi, hingga sistem pendinginan. Bunyi kunci pas yang mengetuk bagian logam mesin bergema bersama dengan suara percakapan santai antar nelayan yang saling membantu satu sama lain. Perahu-perahu nelayan itu sendiri, mulai dari jenis perahu kecil yang digerakkan oleh dayung dengan panjang sekitar tiga hingga empat meter hingga perahu yang lebih besar dengan panjang enam hingga delapan meter yang dilengkapi mesin tempel berkekuatan puluhan tenaga kuda, semuanya mendapatkan perawatan khusus. Bagian lambung perahu diperiksa untuk memastikan tidak ada kebocoran, bagian kayu yang mulai lapuk diganti, dan seluruh permukaan perahu diberi lapisan cat pelindung baru agar lebih tahan terhadap paparan air laut dan sinar matahari yang keras.
Selain peralatan penangkapan dan perahu, para nelayan juga giat menyiapkan berbagai persediaan yang diperlukan untuk perjalanan yang mungkin berlangsung berjam-jam bahkan berhari-hari di laut. Di depan rumah-rumah nelayan yang berada tidak jauh dari dermaga, terlihat tumpukan makanan beku seperti ikan asin, telur asin, dan nasi yang telah dibungkus rapi dengan daun pisang atau plastik kedap udara. Jerigen-jerigen besar berisi air minum yang sudah diisi penuh disiapkan dengan jumlah yang memadai, serta drum-drum bahan bakar solar yang akan digunakan untuk menjalankan mesin perahu telah dipastikan kondisi keamanannya agar tidak terjadi kebocoran selama perjalanan. Beberapa nelayan juga tidak lupa membawa perlengkapan keselamatan seperti pelampung dan jaket pelampung, serta alat komunikasi seperti radio atau ponsel dengan sinyal yang telah dijamin dapat terhubung bahkan di tengah laut yang jauh dari daratan.
“Kita tidak bisa mengambil kesempatan dengan persiapan yang setengah hati. Laut itu bisa memberikan rejeki yang melimpah, tetapi juga bisa menjadi sangat keras jika kita tidak siap. Maka dari itu, setiap bagian peralatan dan segala sesuatu yang kita butuhkan harus diperiksa dengan sangat cermat sebelum kita berangkat ke laut,” jelas Bapak Koteng sambil mengusap permukaan lambung perahu miliknya yang baru saja diberi cat.
Hasil tangkapan cumi dan teri yang melimpah selama musim ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi nelayan secara individu, tetapi juga memiliki efek multiplier yang dapat meningkatkan aktivitas di berbagai sektor terkait, terutama di bidang pasca panen. Saat matahari mulai miring ke arah barat dan sinar matahari mulai memberikan warna jingga pada langit pantai, dermaga Desa Labuan Ratu menjadi semakin ramai dengan kedatangan satu per satu perahu nelayan yang membawa hasil tangkapan mereka. Suara mesin perahu yang perlahan mulai mereda digantikan oleh suara riuh rendah dari para nelayan yang sedang membongkar jaring-jaring hasil tangkapan mereka, serta suara teriakan antusias ketika melihat jumlah cumi dan teri yang terkumpul di dalam bak perahu.
Setelah hasil tangkapan tiba di dermaga, proses pengolahan segera dimulai oleh berbagai kelompok masyarakat yang bekerja di sektor ini. Di lokasi pengolahan yang telah disiapkan di dekat dermaga – sebuah area terbuka dengan atap sederhana dari genteng atau seng – sekelompok wanita dengan tangan terampil sedang mengolah cumi yang masih segar. Beberapa di antaranya sedang membersihkan cumi dengan hati-hati, memisahkan bagian kepala dan dalam dari daging cumi yang akan digunakan untuk konsumsi langsung. Cumi yang telah dibersihkan kemudian dibagi menjadi dua kelompok: sebagian langsung dimasukkan ke dalam wadah berisi es batu untuk dijual ke pasar tradisional atau pasar modern di Kabupaten Lampung Timur maupun kota-kota besar di sekitarnya seperti Bandar Lampung. Sedangkan sebagian lainnya akan diolah menjadi berbagai produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan masa simpan yang lebih lama.
Proses pembuatan cumi asin dilakukan dengan cara menaburkan garam kasar secara merata pada seluruh permukaan daging cumi, kemudian ditempatkan di dalam ember kayu atau baskom plastik yang telah diberi alas kain bersih. Setelah itu, cumi akan dibiarkan selama beberapa jam agar garam meresap dengan baik sebelum akhirnya ditempatkan di atas rak pengering yang terbuat dari bambu untuk dikeringkan di bawah sinar matahari selama satu hingga dua hari. Selain cumi asin, juga ada kelompok yang membuat cumi bakar dengan cara memberikan bumbu khusus dari cabai, bawang merah, bawang putih, dan bumbu lainnya sebelum dibakar dengan bara api yang terkontrol dengan baik. Hasil cumi bakar tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang atau kemasan plastik kedap udara untuk dijual sebagai makanan siap saji yang sangat digemari oleh banyak orang. Bagi cumi yang akan didistribusikan ke daerah yang lebih jauh, mereka akan dimasukkan ke dalam lemari pendingin atau freezer untuk menjaga kesegarannya selama perjalanan transportasi.
Sementara itu, teri yang biasanya ditangkap dalam jumlah besar melalui jaring insang memiliki proses pengolahan yang sedikit berbeda. Setelah tiba di dermaga, teri yang masih segar segera dibawa ke area pengolahan terpisah yang dilengkapi dengan rak pengering yang lebih luas. Proses pertama yang dilakukan adalah membersihkan teri dari kotoran dan bagian yang tidak dapat dikonsumsi, kemudian direndam dalam larutan garam dengan konsentrasi tertentu selama kurang lebih satu jam. Setelah itu, teri dikeluarkan dari larutan garam dan dibiarkan mengalirkan airnya sebelum akhirnya ditempatkan secara merata di atas rak pengering yang telah disiapkan di bawah sinar matahari. Proses pengeringan teri biasanya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari tergantung pada intensitas sinar matahari dan kelembaban udara. Selama proses pengeringan, para pekerja akan secara berkala membalik teri agar bagian bawahnya juga mendapatkan paparan sinar matahari yang merata dan mencegah terjadinya pembusukan. Setelah benar-benar kering, teri akan dikumpulkan dan dibagi menjadi berbagai kemasan sesuai dengan ukuran dan kualitasnya – mulai dari kemasan kecil untuk keperluan konsumsi rumah tangga hingga kemasan besar untuk pedagang yang akan menjualnya ke berbagai pasar tradisional maupun modern.
Selain sektor pengolahan, aktivitas penyimpanan dan pemasaran juga mengalami peningkatan yang signifikan selama musim tangkapan cumi dan teri. Banyak pedagang lokal yang telah menyiapkan tempat penyimpanan khusus seperti lemari pendingin dengan kapasitas besar atau gudang yang dirancang khusus agar tetap kering dan sejuk untuk menyimpan hasil tangkapan sebelum mereka didistribusikan ke berbagai tujuan. Di sekitar pasar utama di Desa Labuan Ratu dan Kecamatan Pasir Sakti, telah muncul banyak lapak-lapak baru yang khusus menjual cumi dan teri baik dalam keadaan segar maupun olahan. Suasana pasar menjadi semakin ramai dengan kedatangan pembeli dari berbagai kalangan – mulai dari ibu rumah tangga yang datang untuk membeli kebutuhan harian hingga pedagang besar yang membeli dalam jumlah banyak untuk didistribusikan ke daerah lain.
Kedatangan musim tangkapan cumi dan teri ini juga dinantikan oleh para pedagang dari berbagai daerah di Provinsi Lampung, bahkan dari luar provinsi seperti Jawa Barat atau Jawa Tengah, yang datang secara khusus untuk membeli hasil tangkapan cumi dan teri dari Desa Labuan Ratu. Mereka biasanya datang dengan menggunakan truk atau kendaraan besar yang telah dilengkapi dengan sistem pendinginan untuk menjaga kesegaran produk selama perjalanan pulang. Beberapa dari mereka bahkan telah membangun hubungan kerja sama yang tetap dengan kelompok nelayan di Desa Labuan Ratu sehingga mereka dapat memesan hasil tangkapan secara teratur selama musim berlangsung. Hal ini tidak hanya meningkatkan pendapatan bagi nelayan dan pedagang lokal, tetapi juga memperkuat hubungan ekonomi antarwilayah serta mempromosikan produk hasil laut dari Kabupaten Lampung Timur ke wilayah yang lebih luas.
“Musim ini bukan hanya membawa kebahagiaan bagi kita para nelayan, tetapi juga bagi semua orang yang bekerja di sektor terkait – mulai dari pekerja pengolahan, pedagang, hingga sopir transportasi. Semua aktivitas ekonomi menjadi lebih hidup, dan kita bisa merasakan manfaatnya secara langsung dalam kehidupan kita sehari-hari,” ucap Bapak Koteng dengan senyum lebar yang menunjukkan kegembiraannya.
Dengan kedatangan musim tangkapan cumi dan teri tahun ini, komunitas Desa Labuan Ratu berharap dapat meraih hasil tangkapan yang melimpah dan memperoleh pendapatan yang cukup untuk meningkatkan kualitas hidup mereka serta mengembangkan usaha perikanan mereka ke depannya. Semoga musim ini menjadi musim yang membawa berkah bagi semua pihak yang terlibat dalam rantai nilai ekonomi hasil laut di Kabupaten Lampung Timur.
