Madura – Kosmi Indonesia – Tak ada yang tahu berapa kali Bunda Risma menelan air mata sendirian di balik kegelapan malam di Makkah. Tahun 1999, di usia yang baru menginjak 13 tahun, ia meninggalkan tanah kelahirannya di Madura meninggalkan bangku sekolah yang baru sampai di tingkat SD, meninggalkan masa kecil yang seharusnya dipenuhi dengan bermain dan belajar, dan meninggalkan kenangan rumah untuk mengikuti orang tuanya berjuang demi bertahan hidup di tanah suci. Ia tiba bukan sebagai tamu Allah yang dimuliakan, melainkan sebagai anak kecil yang harus segera mempelajari arti kehidupan yang berat: bahwa perut yang lapar harus diisi lebih dulu daripada mimpi yang terbang tinggi.
Di Makkah, Risma memulai perjuangannya dengan pekerjaan serabutan yang tak mengenal waktu. Ia membantu di dapur orang selama acara pernikahan, mengaduk masakan dengan tangan yang masih lembut, menjual camilan kecil di pinggir jalan yang padat dengan jamaah, dan kadang hanya duduk menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Kadang dagangannya laku, dan ia pulang dengan senyum kecil membawa uang untuk makan malam. Kadang pula, tangan kosong dan perut kosong hanya diisi dengan doa yang tulus. Tak jarang ia diusir oleh petugas karena peraturan tentang pedagang kaki lima yang ketat, atau ditegur karena dianggap mengganggu. Namun, di tengah semua kesulitan itu, Risma menanam prinsip yang tak tergoyahkan: tetap jujur, tetap berusaha, dan tetap sabar.
Pada titik paling lelah, saat uang hampir habis dan masa depan terasa gelap seperti malam tanpa bintang, Risma mengambil keputusan yang mengubah hidupnya: membuka usaha katering sendiri. Tanpa modal besar, tanpa nama yang dikenal, tanpa koneksi apapun, ia memulai dari nol. Ia memasak sendiri di dapur kecil yang disewa, menerima pesanan sedikit demi sedikit kadang hanya belasan porsi untuk acara kecil. Ia harus bangun sebelum subuh untuk menyiapkan bahan, dan tidur setelah larut malam setelah menyelesaikan pesanan. Tangannya terasa lelah akibat terus-menerus mengaduk dan memotong, matanya perih akibat kurang tidur, tapi hatinya bersikeras berkata: “Aku tidak boleh berhenti.” Dan seperti yang dia jaga, Allah tidak pernah menyia-nyiakan orang yang sabar.
Tahun demi tahun berlalu, pesanan bertambah. Nama “Risma Catering Makkah” mulai dikenal di kalangan jamaah dan warga setempat. Ia mendatangkan koki dari Indonesia agar jamaah yang rindu kampung halaman bisa menemukan rasa rumah di setiap piring yang disajikan. Saat musim umrah tiba, ribuan porsi makanan keluar dari dapurnya setiap hari, disiapkan dengan penuh perhatian dan keamanah. Saat musim haji tiba, puluhan ribu porsi makanan disiapkan untuk memenuhi kebutuhan jamaah yang datang dari seluruh dunia. Dari dapur kecil yang sempit, kini berdiri rumah produksi besar di kawasan Jabal Nur suatu kerajaan katering yang dibangun dari air mata, keringat, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Dari anak putus sekolah di negeri orang, kini ia menjadi pengusaha sukses yang mengharumkan nama Indonesia.
Namun, yang paling membuat hati bergetar bukanlah angka omzet yang terus bertambah atau gelar “Ratu Katering” yang diberikan orang. Melainkan kesadaran yang selalu ia pegang: ia tahu rasanya lapar, ia tahu rasanya tidak punya apa-apa, dan kini, ia memilih memberi. Setiap hari, ia menyediakan makanan bagi mereka yang membutuhkan—baik jamaah yang kesulitan, maupun warga lokal yang mengalami kesulitan ekonomi. Ia percaya bahwa rezeki bukan untuk disimpan sendiri, tapi untuk menguatkan sesama, untuk menyebarkan kebaikan, dan untuk mengembalikan apa yang telah diberikan Allah kepadanya.
Jika hari ini kamu merasa tertinggal, merasa kecil, atau merasa tidak punya apa-apa, ingatlah nama Bunda Risma. Karena dari pendidikan yang terputus, lahir perjuangan yang tak pernah putus. Dari kesulitan yang menimpa, lahir kekuatan yang tak terduga. Dan dari air mata yang ditelan sendirian, Allah tumbuhkan keberkahan yang tak disangka-sangka. Ya Allah, jaga orang-orang baik seperti beliau, karena merekalah bukti bahwa harapan selalu punya jalan, selama hati tidak menyerah, dan keyakinan tidak pernah padam.
