BEKASI – KOSMI INDONESIA – Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang (AKK), pada Kamis (18/12) malam, menyisakan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Bukan hanya karena statusnya sebagai bupati termuda dalam sejarah Bekasi, namun juga karena latar belakangnya yang sudah dikenal kaya raya jauh sebelum menjabat.
Keheranan publik bukan tanpa alasan. Ade Kuswara bukan berasal dari keluarga sembarangan. Ia adalah putra kandung dari H.M. Kunang atau yang akrab disapa Abah Kunang, tokoh masyarakat sekaligus Kepala Desa Sukadami yang sangat berpengaruh di Cikarang Selatan.
Abah Kunang dikenal sebagai pengusaha sukses dan pendiri organisasi masyarakat besar (IKAPUD dan Garda Pasundan). Sejak masa muda, Ade sudah terbiasa dengan fasilitas mewah dan jaringan bisnis keluarga yang kuat. Penangkapan ayahnya, H.M. Kunang, dalam operasi yang sama semakin memperkeruh situasi, memicu dugaan adanya peran “dinasti” dalam mata rantai korupsi di Bekasi.
Harta Rp79 Miliar Tanpa Utang: Masih Kurangkah?
Berdasarkan LHKPN per 11 Agustus 2025, kekayaan Ade mencapai Rp79,1 miliar, mayoritas berupa aset warisan dan hasil usaha sendiri. Koleksi mobil sport seperti Ford Mustang hingga puluhan bidang tanah senilai puluhan miliar rupiah mencerminkan bahwa secara finansial, Ade seharusnya sudah “selesai” dengan dirinya sendiri.
Kenyataan bahwa seorang kepala daerah dengan kekayaan fantastis dan status “Sultan” tetap terjaring OTT suap proyek dan pemerasan menimbulkan spekulasi mengenai dua hal:
Biaya Politik yang Tinggi: Meskipun kaya, biaya memenangkan Pilkada dengan koalisi besar seringkali memaksa pejabat mencari “balik modal” atau memenuhi janji politik kepada donatur.
Keterlibatan Jaringan Luar: Adanya indikasi keterlibatan oknum penegak hukum (Kajari) dalam kasus ini menunjukkan adanya sistem dugaan pemerasan yang sistematis, di mana kekayaan pribadi tidak menjadi jaminan seseorang bisa terlepas dari lingkaran korupsi birokrasi.
Kepercayaan Publik di Titik Nadir
Pelantikan Ade oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025 lalu awalnya membawa secercah harapan akan adanya “darah muda” yang bersih. Namun, penangkapan ini seolah menampar ekspektasi warga Bekasi.
“Heran, kalau sudah kaya begitu masih mau terima suap buat apa lagi? Ini yang membuat masyarakat makin tidak percaya pada komitmen bersih-bersih di daerah,” ujar salah satu warga di media sosial yang memantau perkembangan kasus ini.
Saat ini, Ade Kuswara dan ayahnya masih menjalani pemeriksaan intensif di Gedung Merah Putih KPK. Penyidik tengah mendalami apakah peran sang ayah merupakan sebagai perantara (makelar) proyek ataukah ada tekanan dari pihak eksternal, termasuk oknum Kajari yang saat ini masih dalam pengejaran intensif. (Sofyan)
