Jakarta – Kosmiindonesia.com – Minggu (1/3/2026) pagi waktu setempat, Timur Tengah kembali terguncang oleh eskalasi konflik yang serius. Israel melancarkan serangan pendahuluan ke wilayah Iran, dan tak lama kemudian, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah memulai operasi militer besar di negara tersebut melalui video yang diposting di platform media sosialnya, Truth Social.
Trump menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk melindungi rakyat AS dengan menghilangkan ancaman langsung yang dianggap berasal dari rezim Iran. Ia menegaskan bahwa aktivitas yang dianggap mengancam dari Iran telah membahayakan AS, pasukannya, pangkalannya di luar negeri, serta sekutunya di seluruh dunia. “Kita akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka. Dan kita akan memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir,” ujar Trump dalam video tersebut.
Pejabat pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa operasi militer ini telah direncanakan secara matang dan disinkronkan dengan AS selama berbulan-bulan, dengan tanggal pelaksanaan yang ditetapkan beberapa minggu sebelumnya. Serangan udara ini menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Iran, termasuk markas militer, infrastruktur pertahanan, dan bahkan wilayah di sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, sumber resmi mengonfirmasi bahwa Khamenei tidak berada di lokasi saat serangan terjadi dan telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Media lokal Iran melaporkan adanya ledakan di sejumlah wilayah negara, termasuk ibu kota Teheran, serta kota-kota besar lainnya seperti Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, dan Karaj. Ada juga laporan yang menyebutkan bahwa Menteri Pertahanan Iran Amir Nasirzadeh dan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohammad Pakpour tewas dalam serangan tersebut, meskipun kabar ini belum dapat diverifikasi secara independen. Selain itu, terdapat laporan yang mengkhawatirkan tentang serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan 70 siswi.
Sebagai respons terhadap serangan gabungan AS-Israel, Iran segera meluncurkan serangan balasan. IRGC mengumumkan peluncuran gelombang rudal dan drone yang ditujukan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Teluk Persia, termasuk Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Militer Israel mengaktifkan sirene darurat di seluruh negeri dan meminta warga untuk berlindung di bunker, sementara Kedutaan Besar AS di Qatar menerapkan status shelter-in-place bagi seluruh personelnya.
Eskalasi konflik ini memicu reaksi yang beragam dari masyarakat internasional. Beberapa negara mendukung langkah AS dan Israel, menganggapnya sebagai upaya untuk menahan program nuklir Iran yang dianggap berbahaya. Namun, banyak negara lain mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan berpotensi memperluas konflik menjadi perang regional yang lebih besar.
Indonesia menyatakan keprihatinan mendalam atas gagalnya perundingan antara AS dan Iran yang memicu eskalasi militer ini. Pemerintah Indonesia menyerukan semua pihak untuk menahan diri, mengedepankan dialog dan diplomasi, serta menyatakan siap memfasilitasi perundingan antara kedua negara. Presiden RI Prabowo Subianto bahkan bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi jika disetujui oleh kedua belah pihak.
Rusia juga mengutuk serangan bersenjata tanpa provokasi oleh AS dan Israel terhadap Iran dan menyatakan siap memfasilitasi pencarian solusi damai berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan keseimbangan kepentingan di Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, Malaysia mengecam keras serangan tersebut dan menuntut penghentian permusuhan secara segera dan tanpa syarat, sementara Qatar mengutuk serangan rudal Iran yang menghantam wilayahnya dalam aksi balasan.
Situasi saat ini masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Ketegangan di Timur Tengah telah mencapai titik kritis, dan ada kekhawatiran yang besar bahwa konflik ini dapat meluas dan berdampak buruk pada stabilitas regional dan global. Selain itu, dampak ekonomi juga menjadi perhatian, karena gangguan pada jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz dapat menyebabkan kenaikan harga minyak dunia yang tajam dan memengaruhi perekonomian global.
Di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, harapan masih tertumpu pada upaya diplomasi dan dialog untuk meredakan ketegangan dan menemukan solusi damai bagi konflik ini. Semua pihak diharapkan dapat menahan diri dan berkomitmen untuk menyelesaikan perbedaan melalui cara-cara damai, demi keamanan dan kesejahteraan seluruh umat manusia.
