Sampang – Kosmiindonesia.com – Kritik yang dilontarkan Wakil Ketua DPRD Sampang Moh. Iqbal Fathoni terhadap konser yang digelar oleh penyanyi muda Achmad Valen Akbar (DA7.Valen) di Kabupaten Sampang baru-baru ini tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, melainkan juga menuai reaksi beragam yang meluas hingga ke wilayah sekitar seperti Pamekasan, Sumenep, dan Bangkalan di Pulau Madura. Warganet dari berbagai daerah di Madura bahkan luar negeri ramai-ramai membanjiri kolom komentar pada postingan terkait kritik tersebut, dengan sebagian besar mempertanyakan sikap DPRD yang dinilai terlalu jauh mengomentari materi lagu dalam acara konser hiburan yang seharusnya menjadi wadah hiburan dan dukungan bagi talenta lokal.
Sebelumnya, Bung Fafan – sapaan akrab untuk Moh. Iqbal Fathoni – telah menyoroti dugaan adanya lagu plagiat yang dibawakan oleh Valen dalam konser yang digelar di kawasan Sampang beberapa waktu lalu. Dalam pernyataannya, ia tidak hanya menunjuk pada kasus yang terjadi pada konser tersebut, melainkan juga menyinggung polemik hak cipta yang pernah terjadi antara dua musisi besar tanah air, Ahmad Dhani dan Ariel NOAH, sebagai contoh pentingnya mematuhi aturan mengenai izin penggunaan lagu serta pembayaran royalti kepada pencipta asli. Menurutnya, hal ini sangat krusial untuk menjaga martabat serta penghormatan terhadap karya seniman dan hak cipta mereka, baik yang sudah terkenal maupun yang masih berkembang.
Namun, tanggapan yang muncul di berbagai platform media sosial justru menunjukkan bahwa sebagian besar netizen memiliki pandangan yang berbeda. Banyak dari mereka yang turut membela Valen dengan berbagai alasan, mulai dari sisi karakter penyanyi muda tersebut hingga pertanyaan terkait fokus kerja lembaga daerah. Akun @FRONIK, salah satu penggemar dari Pamekasan, menuliskan komentar yang cukup banyak mendapatkan dukungan dari pengguna lain: “Seharusnya bangga pak, bukannya malah ngritik. Orang lain aja bangga dan senang bisa melihat anak muda dari daerah kita bisa bersinar seperti ini. Valen orangnya nyanyi juga sopan, tidak ada hal yang tidak pantas sama sekali. Kalau pun ada kesalahan kecil dalam lirik, itu juga cuma buat nyemangati penonton aja. Bahkan penontonnya sendiri nunggu-nunggu kalau Valen salah lirik karena mereka tahu itu bagian dari gaya yang membuat acara jadi lebih seru dan akrab.”
Komentar serupa juga datang dari akun @Cindy* yang berdomisili di Sumenep, yang menilai bahwa pihak DPRD seharusnya tidak terlalu fokus pada urusan yang dianggapnya bukan sebagai prioritas utama. “Segala lagu yang diurus, padahal di Sumenep, di Pamekasan, di Bangkalan kemarin-kemarin juga sering ada acara musik dengan lagu-lagu yang tidak jauh beda atau bahkan sama saja. Saat itu DPRD diam bae lah, kok sekarang ini malah keluar komentar begitu? Ada kerjaan lain yang lebih penting kan pak, seperti masalah jalan rusak, air bersih, atau kesejahteraan rakyat yang masih banyak membutuhkan perhatian,” tulisnya dengan nada yang sedikit menyindir namun tetap konstruktif.
Sementara itu, akun @haniyaha*1 dari Bangkalan mempertanyakan konsistensi dalam kritik yang dilontarkan oleh Wakil Ketua DPRD Sampang tersebut. “Pak gimana rakyat mu yang sering merubah lagu-lagu India atau luar negeri menjadi versi Madura, baik untuk acara hajatan maupun untuk konten media sosial, kok belum pernah dikritik atau diberi arahan tentang hak cipta? Padahal itu juga termasuk dalam kategori penggunaan karya tanpa izin jelas kan? Kenapa hanya fokus pada kasus Valen saja?” ujarnya, yang kemudian membuka diskusi lebih lanjut mengenai penerapan aturan hak cipta yang seringkali dianggap tidak merata di kalangan masyarakat.
Meskipun sebagian besar tanggapan yang muncul bernada kritik terhadap sikap Bung Fafan, tidak sedikit pula netizen yang merespons dengan sikap yang lebih positif dan terbuka terhadap kritik yang diberikan. Akun @Solekah Solek*h dari Kabupaten Sampang sendiri menuliskan komentar yang penuh kesadaran akan pentingnya masukan konstruktif: “Terimakasih atas kritikannya Pak Bung Fafan. Semoga dengan kritikannya ini, Valen bisa menjadi lebih baik ke depannya, lebih memperhatikan aspek hak cipta, dan bisa menghasilkan karya-karya orisinal yang lebih berkualitas lagi. Juga semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh musisi muda di Madura untuk lebih menghargai karya orang lain dan mengembangkan kreativitas sendiri.”
Perdebatan di kolom komentar serta berbagai grup diskusi masyarakat di media sosial pun terus bergulir dan menjadi topik pembicaraan hangat hingga saat ini. Ada dua pandangan utama yang muncul dari perdebatan tersebut: sebagian besar warganet menilai bahwa pihak DPRD seharusnya lebih fokus pada persoalan prioritas daerah yang lebih mendesak seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta penanggulangan kemiskinan yang masih menjadi tantangan utama di berbagai wilayah di Madura. Namun, di sisi lain, sebagian kecil masyarakat menganggap bahwa kritik terhadap orisinalitas karya tetap penting untuk dijaga demi menghargai hak cipta serta meningkatkan martabat seniman lokal agar bisa bersaing dengan lebih baik di kancah nasional bahkan internasional.
Beberapa pihak juga menyarankan agar pihak DPRD tidak hanya berhenti pada memberikan kritik semata, namun juga harus mengambil langkah konkret seperti membuat kebijakan yang mendukung perkembangan industri kreatif di daerah, memberikan pelatihan mengenai hak cipta kepada seniman muda, serta menciptakan wadah yang memfasilitasi kolaborasi antara seniman lokal dengan pihak terkait agar karya mereka bisa lebih terlindungi dan mendapatkan nilai yang sesuai. Hal ini diharapkan bisa menjadi titik temu antara kepentingan menjaga hak cipta dengan dukungan terhadap perkembangan talenta muda daerah, sehingga tidak lagi muncul polemik yang tidak perlu dan bisa fokus pada hal-hal yang lebih konstruktif bagi kemajuan daerah dan bangsa secara keseluruhan.
Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak DPRD Sampang maupun dari manajemen Valen DA7 terkait perdebatan yang sedang terjadi. Namun, banyak pihak yang berharap agar peristiwa ini bisa menjadi momen pembelajaran yang baik bagi semua pihak, terutama dalam bagaimana cara berkomunikasi dan memberikan kritik yang konstruktif, serta bagaimana menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap talenta lokal dengan pemeliharaan aturan hukum dan hak cipta yang berlaku.
