Bekasi – Kosmiindonesia.com – Di tengah hari yang cerah namun dipenuhi ketegangan, sebuah pemandangan kontras yang mencuat menjadi sorotan publik terjadi di depan Kompleks Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bekasi pada hari ini. Ribuan mata menyaksikan bagaimana ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Bekasi, yang tergabung dalam aliansi Cipayung Plus Kabupaten Bekasi, menggelar aksi unjuk rasa bertajuk “BenahinBekasi”. Aksi ini merupakan bentuk perwujudan keprihatinan mereka terhadap berbagai permasalahan yang tengah menghantui masyarakat Kabupaten Bekasi dan selama ini dinilai belum mendapatkan perhatian yang cukup dari pemerintah daerah.Kamis 2 April 2026
Perjalanan aksi dimulai dari Alun-Alun Kabupaten Bekasi sekitar pukul 09.00 WIB, dengan massa berbaris dan membawa berbagai spanduk yang menuliskan tuntutan-tuntutan mereka. Dalam perjalanan menuju kompleks pemda, para mahasiswa masih menjaga suasana damai, menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan memberikan flyers kepada masyarakat yang bertemu di sepanjang jalan. Banyak warga yang melihat aksi tersebut memberikan dukungan dengan cara mengangkat tangan atau memberikan semangat.
Setelah tiba di depan gerbang kompleks pemda sekitar pukul 10.30 WIB, para mahasiswa mulai menyampaikan orasi dan menyampaikan tuntutan mereka secara lantang. Aksi yang awalnya berjalan dengan suasana terkontrol tersebut tiba-tiba berubah menjadi kericuhan ketika sebagian massa memutuskan untuk mencoba merangsek masuk ke dalam kompleks pemda. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas ketidakhadiran Plt Bupati Bekasi yang seharusnya hadir untuk menerima dan merespons langsung tuntutan yang diajukan oleh para mahasiswa. Menurut perwakilan aliansi Cipayung Plus, pihak mereka telah sebelumnya mengirimkan surat undangan resmi untuk menjadwalkan pertemuan, namun tidak mendapatkan balasan yang memuaskan dari pihak pemda.
Setelah upaya untuk memasuki kompleks pemda ditolak oleh petugas keamanan yang sudah berjaga sejak pagi hari, kericuhan pun tak terhindarkan. Adu jotos terjadi antara mahasiswa dengan petugas keamanan yang terdiri dari personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan petugas pengamanan dalam (Pamdal) gedung pemda. Para mahasiswa yang dengan gigih mengusung tuntutan utama berupa perbaikan infrastruktur jalan yang rusak di berbagai kecamatan seperti Tambun Selatan, Cikarang Barat, dan Bantar Gebang, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bekasi yang dinilai masih jauh dari harapan, hingga penyelidikan mendalam terkait indikasi korupsi yang diduga dilakukan oleh sejumlah pejabat pemerintah daerah, harus berhadapan dengan barisan petugas yang bersikeras menghalau mereka.
Dalam bentrokan yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut, beberapa mahasiswa sempat tersungkur dan mengalami luka-luka ringan hingga sedang. Tim medis yang dibawa oleh aliansi mahasiswa serta petugas kesehatan dari PMI Kabupaten Bekasi yang segera merespon kejadian memberikan pertolongan pertama kepada korban. Berdasarkan catatan sementara, sebanyak 12 mahasiswa mengalami memar pada bagian tubuh, 5 orang mengalami luka sayatan akibat benturan dengan barang keras seperti pagar besi dan tongkat keamanan, dan satu mahasiswa bernama Rizky (21 tahun), mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya, bahkan harus dirawat di RSUD Kabupaten Bekasi setelah mengalami kesulitan bernapas akibat terpeleset dan tertimpa massa saat bentrokan terjadi.
Petugas keamanan juga tidak luput dari dampak kejadian ini, dimana 3 orang petugas Satpol PP dan 2 orang Pamdal mengalami luka memar pada bagian lengan dan kaki. Pihak kepolisian yang kemudian datang untuk mengamankan lokasi berhasil membubarkan massa dan menjaga agar situasi tidak semakin memburuk.
Sementara suasana di luar gerbang kompleks pemda semakin memanas dan penuh ketegangan, sebuah rekaman video yang kemudian viral di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Twitter menunjukkan pemandangan yang sangat kontras di dalam salah satu ruangan tamu lantai tiga gedung pemda. Plt Bupati Bekasi beserta beberapa pejabat tinggi pemerintah daerah tampak sedang asyik menikmati makan siang bersama.
Video yang berdurasi sekitar 3 menit tersebut, yang diambil oleh salah satu staf yang tidak mau disebutkan nama, menunjukkan secara jelas Plt Bupati sedang lahap menyantap hidangan nasi kotak yang terdiri dari berbagai lauk pauk seperti ayam bakar, sayur kangkung, tempe orek, dan sambal matah. Di sekitar meja makan juga terlihat beberapa pejabat lainnya seperti Asisten Pemerintah dan Kesra, Kepala Badan Kepegawaian Daerah, serta Kepala Bidang Tata Usaha Sekretariat Daerah. Tidak ada sedikit pun raut wajah tegang atau ekspresi khawatir pada wajah mereka meskipun suara teriakan massa dan desisan sirine dari kendaraan keamanan masih terdengar jelas dari luar gedung. Mereka tampak berbincang santai, bahkan beberapa kali tertawa riang seolah tidak terjadi apa-apa di luar ruangan tersebut.
Beberapa sumber yang dekat dengan lingkungan pemda mengungkapkan bahwa makan siang tersebut merupakan acara rutin yang telah dijadwalkan sebelumnya untuk membahas persiapan acara peresmian pasar baru di Kecamatan Cikarang Timur. Namun hal tersebut tidak mengurangi kekesalan masyarakat terhadap ketidakhadiran pemimpin daerah di tengah kondisi yang sangat membutuhkan perhatian dan kehadirannya untuk menangani aspirasi rakyat.
Menyikapi peristiwa yang terjadi, Ketua DPD Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia Kabupaten Bekasi, Ade Gentong, menyampaikan kesalahannya yang mendalam terhadap terjadinya adu jotos dan tindakan represif yang dilakukan terhadap mahasiswa. Dalam konferensi pers yang digelar di kantor IWO Kabupaten Bekasi, beberapa jam setelah kejadian, Ade menjelaskan bahwa menyampaikan aspirasi merupakan hak konstitusional yang telah dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta berbagai peraturan perundang-undangan yang mengikutinya.
“Kami menilai di saat rakyatnya (mahasiswa) sedang berdarah-darah di luar gerbang, Plt Bupati Bekasi sedang asyik makan siang bersama di ruangannya. Ini adalah bentuk ketidaksensitifan publik yang nyata dan menjadi potret buruknya etika birokrasi yang telah memutus rantai empati antara pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya,” ujar Ade Gentong dengan nada tegas.
Ia menambahkan bahwa persoalan yang dibawa oleh para mahasiswa bukanlah hal baru atau masalah yang dibuat-buat semata. “Persoalan yang dibawa mahasiswa—mulai dari infrastruktur jalan yang rusak menyebabkan kesulitan mobilitas masyarakat, terutama bagi mereka yang bekerja dan anak-anak yang sekolah, pelayanan kesehatan di RSUD yang buruk hingga pasien harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan nomor antrian, obat-obatan yang sering habis, hingga fasilitas yang tidak terawat dengan baik, serta dugaan korupsi yang menggerus anggaran daerah yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat—adalah persoalan klasik yang sudah lama ada dan butuh jawaban konkret dari pemerintah daerah,” katanya.
Ade juga mengimbau agar Pemda Kabupaten Bekasi segera membuka ruang audiensi yang transparan dan terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, tidak hanya mahasiswa. “Kami mendesak Pemda Bekasi untuk segera membuka ruang audiensi yang transparan, dimana seluruh pihak dapat berkumpul secara terbuka dan jujur untuk membahas solusi nyata terhadap permasalahan yang dihadapi. Jangan biarkan aspirasi rakyat hanya diterima dengan tembok keamanan dan kekerasan yang hanya akan membuat jarak antara pemerintah dan rakyat semakin lebar,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ade Gentong juga menyampaikan pesan yang lugas kepada para pemimpin daerah di seluruh Indonesia, tidak hanya di Kabupaten Bekasi. “Pemimpin seharusnya menjadi orang yang paling peduli dengan kesulitan rakyatnya. Seorang pemimpin seharusnya kenyang paling terakhir setelah rakyatnya sejahtera, bukan asyik makan siang dengan nyaman di dalam ruangan yang ber-AC saat aspirasi rakyat dibalas dengan pukulan dan kekerasan di depan rumahnya sendiri. Ini bukanlah contoh kepemimpinan yang baik dan akan semakin membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah terus menurun. Kami berharap pihak pemda dapat segera memberikan tanggapan dan mengambil langkah konkrit untuk menyelesaikan permasalahan yang diajukan oleh mahasiswa,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Pemda Kabupaten Bekasi belum memberikan tanggapan resmi terkait kejadian tersebut. Staf dari Sekretariat Daerah yang ditemui di lokasi hanya menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan koordinasi internal untuk memberikan tanggapan yang tepat dan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Sementara itu, perwakilan aliansi Cipayung Plus Kabupaten Bekasi, Muhammad Fajar (22 tahun), menyampaikan bahwa massa mahasiswa yang masih berada di sekitar lokasi telah mulai membubarkan diri dengan ditemani oleh beberapa elemen masyarakat yang datang untuk memberikan dukungan. Namun, ia juga menyampaikan bahwa mereka akan kembali melakukan aksi yang lebih besar jika tuntutan mereka tidak mendapatkan tanggapan yang jelas dan langkah konkrit dari pemerintah daerah dalam waktu maksimal 1 minggu ke depan.
“Kita tidak ingin melakukan aksi yang mengganggu ketertiban umum, tapi jika pemerintah terus menerus mengabaikan aspirasi rakyat, maka kita tidak punya pilihan lain selain terus berjuang untuk kebaikan bersama. Kami berharap pihak pemda dapat menyadari bahwa perbaikan Kabupaten Bekasi tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah, melainkan perlu kerja sama dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat,” ucap Fajar sebelum membubarkan massa.
Banyak pihak berharap bahwa kejadian ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk lebih mendekati rakyat dan menangani berbagai permasalahan yang ada dengan serius serta bertanggung jawab. Semoga apa yang terjadi di depan kompleks pemda Kabupaten Bekasi tidak terulang kembali dan semua pihak dapat menemukan titik temu untuk membangun Kabupaten Bekasi yang lebih baik dan sejahtera bagi seluruh masyarakatnya.
