TULANGBAWANG – Kosmiindonesia.com – Sebuah komentar bernada tinggi dan dianggap sangat arogan yang diduga dilontarkan oleh anak seorang pejabat desa di Kabupaten Tulangbawang, Lampung, kini menjadi buah bibir dan menuai kemarahan besar dari netizen maupun masyarakat setempat.
Peristiwa ini bermula dari keluhan warga terkait kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah dan penuh lumpur, namun justru dijawab dengan kalimat yang menyakitkan: “Kalo susah ya ga usah dilewati, cari aja jalan lain yang lebih oke, gitu aja berisik kawan.”
Pernyataan ini dianggap tidak memiliki rasa empati sama sekali terhadap penderitaan masyarakat yang selama ini bertahun-tahun terlantar fasilitas umumnya.
Kisah ini mulai menyebar luas setelah diunggah oleh akun TikTok @Ariess pada Selasa, 7 April 2026. Dalam video yang berjudul atau memiliki keterangan “Aku Tentang Buruknya Fasilitas”, terlihat jelas kondisi memprihatinkan di Jalan Hasan Bulan, wilayah Bratasena, Desa Pasiranjaya, Kecamatan Dente Teladas.
Visual dalam video memperlihatkan jalan yang rusak berat, berlubang di mana-mana, dan tergenang air lumpur akibat banjir, sehingga sangat sulit dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Video yang menyiratkan keputusasaan warga ini pun langsung viral dan dibanjiri ratusan komentar warganet yang bersimpati. Namun, satu komentar justru menjadi bumerang dan memicu api kemarahan.
Komentar tersebut datang dari akun @Iyassssss yang diduga kuat merupakan anak dari Lurah setempat. Dalam balasannya, akun tersebut menulis:
“Kalo susah ya ga usah dilewati, cari aja jalan lain yang lebih oke, gitu aja berisik kawan.”

Ucapan ini sontak membuat warganet geram. Banyak yang menilai kalimat tersebut sangat tidak manusiawi, arogan, dan mencerminkan betapa rendahnya rasa kepedulian oknum tersebut terhadap kesulitan rakyat kecil.
Kemarahan masyarakat semakin memuncak karena pernyataan “cari jalan lain” dinilai sangat tidak masuk akal dan jauh dari realitas di lapangan.
Seorang warga bernama Sugianto (43 tahun), yang juga menyuarakan keluhan serupa di grup Facebook “Apa Saja Bratasena dan sekitarnya”, membeberkan fakta yang sebenarnya.
Menurut Sugianto, kondisi jalan di kawasan Pasiranjaya ini sudah sangat lama terbengkalai.
“Fakta di lapangan sangat jauh dari kata layak. Ini bukan sekadar jalan alternatif, tapi satu-satunya akses utama masyarakat,” tegas Sugianto.
Yang lebih mengejutkan, jalan penghubung vital ini disebut-sebut sudah hampir 18 tahun tidak pernah mendapatkan perbaikan yang signifikan, baik dari pemerintah desa maupun tingkat provinsi. Selama hampir dua dekade, warga hanya bisa pasrah menelan pil pahit kondisi jalan yang semakin hari semakin hancur.
Jalan di Jalan Hasan Bulan ini bukan sekadar jalan biasa, melainkan urat nadi kehidupan bagi ribuan warga Bratasena dan sekitarnya.
Kerusakan parah ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan:
🔹 Sektor Ekonomi & Pertanian: Warga kesulitan mengangkut hasil panen mereka ke pasar atau tempat penjualan. Biaya transportasi membengkak karena kendaraan sering mogok atau rusak.
🔹 Akses Kesehatan: Dalam kondisi darurat medis, ambulans atau warga yang membawa sakit seringkali terkendala dan memakan waktu lama untuk keluar masuk desa.
🔹 Dunia Pendidikan: Ratusan pelajar mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK harus berjuang setiap hari melewati jalan berlumpur dan becek tersebut demi menuntut ilmu. Risiko terjatuh atau kecelakaan sangat tinggi.
Oleh karena itu, saran untuk “mencari jalan lain” adalah hal yang mustahil dilakukan, karena memang tidak ada pilihan lain bagi warga selain menggunakan jalan tersebut.
Kasus yang kini sudah viral ini membuat masyarakat menuntut tanggung jawab. Warga meminta agar pihak yang diduga mengeluarkan komentar tersebut untuk segera meminta maaf dan memberikan klarifikasi yang jelas.
Lebih dari itu, masyarakat juga mendesak pemerintah daerah, baik tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten, untuk tidak lagi menutup mata. Sudah waktunya anggaran pembangunan infrastruktur benar-benar turun ke lapangan dan dinikmati oleh rakyat, bukan hanya menjadi wacana.
Hingga berita ini diturunkan, warga Kabupaten Tulangbawang masih menunggu sikap dan tindakan nyata dari para pemimpin mereka. Rasa lelah sudah 18 tahun menunggu perbaikan, kini berubah menjadi tuntutan keras agar jalan yang layak segera hadir demi keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Jalan adalah hak rakyat, pejabat harusnya mengayomi, bukan meremehkan kesulitan rakyat!
