Jakarta – Kosmiindonesia.com – Fenomena Pink Moon 2026 diperkirakan akan terjadi pada periode 1 hingga 2 April 2026, dengan puncak fase purnama secara global jatuh pada hari Selasa, 1 April pukul 22.12 EDT (Waktu Timur Amerika). Di wilayah Indonesia, fenomena ini dapat diamati mulai malam hari pada saat bulan terbit di ufuk timur sekitar pukul 18.00 hingga 18.15 WIB, dan mencapai posisi tertinggi sekitar pukul 00.30 WIB – yang menjadi jendela waktu terbaik untuk melakukan pengamatan.
Meskipun diberi nama “Pink Moon” atau Bulan Merah Muda, bulan pada fase purnama ini tidak akan menunjukkan warna merah muda seperti yang mungkin dibayangkan banyak orang. Penampakan bulan akan tetap sama seperti purnama pada umumnya, yaitu berwarna putih keperakan atau sedikit kekuningan tergantung kondisi atmosfer Bumi. Nama tersebut berasal dari tradisi Barat, khususnya dari kalender Bulan Penuh Amerika Serikat yang merujuk pada mekarnya bunga phlox berbunga merah muda yang tumbuh liar di daerah Amerika Serikat saat musim semi tiba. Bunga ini juga sering disebut sebagai “wild pink” atau bunga merah muda liar, yang menjadi alasan utama pemberian nama pada purnama ini.
Selain uniknya nama yang menarik, Pink Moon 2026 juga memiliki karakteristik khusus lainnya – tergolong dalam kategori micromoon. Micromoon adalah istilah yang diberikan pada purnama atau bulan baru yang terjadi ketika bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi (disebut dengan apogee). Pada kesempatan ini, bulan akan tampak sekitar 5,1% lebih kecil dalam diameternya dan sekitar 11% lebih redup dibandingkan dengan purnama biasa yang berada di posisi terdekat dengan Bumi (perigee) atau yang dikenal sebagai supermoon.
Meskipun tampak lebih kecil dan redup, fenomena ini tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi pengamat langit dan masyarakat umum. Pengamatan dapat dilakukan dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu seperti teropong atau teleskop untuk melihat lebih jelas permukaan bulan yang memiliki kawah dan bentuk pegunungan khasnya. Kondisi langit yang cerah dan bebas dari kabut serta polusi cahaya akan sangat membantu dalam mendapatkan pengalaman pengamatan yang optimal.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengimbau bagi masyarakat yang ingin mengamati Pink Moon 2026 untuk memilih lokasi yang terbuka dan jauh dari sumber cahaya buatan. Selain itu, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut terkait kondisi cuaca pada hari pengamatan, disarankan untuk memantau pembaruan data cuaca dari instansi terkait agar aktivitas pengamatan dapat berjalan dengan lancar.
