FAKFAK, – Kosmiindonesia.com – 15 Juni 2026 – Di bawah langit cerah Kampung Sekban, Balai Kampung tampak ramai namun tertib sejak pagi. Pada pukul 10.00 WIT, ruangan yang biasanya menjadi tempat berkumpul warga itu kini dipenuhi kehadiran aparat kepolisian berseragam rapi, tokoh masyarakat yang mengenakan pakaian adat dan kebesaran setempat, serta puluhan warga dari berbagai lapisan usia. Suasana terasa akrab dan penuh kekeluargaan, mengawali kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan yang digelar bersama oleh Densus 88 Anti Teror Polri melalui Satgas Wilayah Papua Barat dan Satuan Bina Masyarakat Polres Fakfak.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kasat Binmas Polres Fakfak, Iptu Markus Silamba, didampingi Kanit Intel Sosbud Bripka T. Sigit Prasetyo, S.H., serta lima orang personel Binmas yang sigap dan siap mendampingi. Dari pihak Satgaswil Papua Barat, hadir Briptu Iqro dan Briptu Syamsul yang membawa materi penyuluhan. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Ketua Forum Komunikasi Pemuda Masyarakat Kampung Sekban, Nyong Utang, Sekretaris Kampung La Ayudin Adi, jajaran Ketua RT, serta tokoh‑tokoh pemangku kepentingan yang menjadi panutan warga setempat.
Dalam pemaparannya, suara penyuluh terdengar jelas dan tenang menjelaskan makna mendalam Pancasila sebagai dasar negara, nilai toleransi yang telah lama hidup berdampingan di tengah keberagaman suku dan agama, serta semangat gotong royong yang terlihat jelas dalam setiap pembangunan lingkungan kampung. Penjelasan itu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, diselingi contoh‑contoh kehidupan sehari‑hari, sehingga membuat setiap pendengar mengangguk mengerti dan merasa materi itu sangat dekat dengan kenyataan mereka.
Tim juga menguraikan bagaimana ancaman Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme kini hadir dalam bentuk yang lebih halus namun berbahaya. Tidak lagi hanya datang dari luar, namun masuk lewat genggaman tangan, melalui ponsel dan media sosial yang sering diakses anak‑anak dan remaja. Narasi yang memecah belah, berita yang belum jelas kebenarannya, serta kata‑kata yang membangkitkan kebencian disebutkan sebagai jebakan yang harus diwaspadai bersama.
Untuk itu, diperkenalkan konsep “Segitiga Ekosistem Pencegahan” yang digambarkan sebagai benteng pertahanan berlapis. Pertama, keluarga menjadi ruang pertama tempat anak menerima didikan dan pengawasan. Kedua, sekolah dan tempat ibadah berperan menanamkan nilai moral dan wawasan kebangsaan secara teratur. Ketiga, lingkungan sosial menjadi ruang tempat warga saling mengawasi dan menjaga interaksi agar tetap positif. Jika ketiganya berjalan selaras, maka ruang bagi ideologi yang bertentangan dengan persatuan akan tertutup rapat.
Sesi diskusi berlangsung hidup dan akrab. Warga mengangkat tangan satu per satu, menyampaikan pengalaman mereka melihat informasi yang mencurigakan, serta bertanya cara menyikapinya dengan bijak. Penyuluh menjawab dengan sabar, memberikan langkah‑langkah sederhana namun efektif untuk menyaring berita dan menghindari terprovokasi.
Saat kegiatan berakhir, suasana tetap hangat. Jabat tangan dan senyum terjalin antara aparat dan warga, menandakan bahwa kesepahaman telah terbangun. Sosialisasi ini meninggalkan kesan mendalam, mempertegas tekad bersama untuk menjaga keutuhan NKRI, membentengi diri dan generasi muda, serta menjadikan Kampung Sekban sebagai lingkungan yang aman, damai, dan sejahtera untuk masa depan.
Penulis: Arjun
Editor: Marfana
