Bekasi – Kosmiindinesia.com – Rumah sakit yang kita maksud terletak di depan sana, yang harus ditempuh melewati jalan kereta dengan jadwal yang tidak dapat diprediksi. Sebelumnya, banyak masyarakat bertanya: “Bisa nggak rumah sakit Hermina menjadi mitra kerja sama dengan BPJS Kesehatan?” Untuk menjawab hal ini, kita melakukan serangkaian diskusi intensif dengan pihak manajemen Rumah Sakit Hermina serta tim dari BPJS Kesehatan. Akhirnya, setelah melalui berbagai tahapan proses yang ketat, Hermina resmi menjadi rumah sakit rujukan BPJS, membuka peluang akses layanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat.
Tentu saja, sebelum memastikan kualitas layanan bagi masyarakat, kita bersama teman-teman harus melakukan verifikasi terlebih dahulu terhadap fasilitas dan pelayanan yang ada di rumah sakit tersebut. Saya sendiri datang langsung ke lokasi, bahkan menyempatkan diri untuk mengunjungi terminal sekitar untuk berbicara dengan masyarakat dan mendengar langsung aspirasi mereka terkait kebutuhan kesehatan di wilayah tersebut. Setelah itu, saya masuk ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting, seperti: “Berapa jumlah tempat tidur yang tersedia?” dan “Berapa banyak dokter spesialis yang melayani di sini?”
Dalam proses verifikasi itu, saya juga sengaja “berperan” sebagai pasien untuk merasakan langsung pelayanan yang diberikan – bisa dibilang saya “menjajal” atau menguji sistemnya secara langsung mulai dari pendaftaran hingga pelayanan medis dasar. Saat melakukan pemeriksaan tekanan darah sebagai bagian dari simulasi tersebut, hasilnya membuat saya terkejut: angka tekanan darah mencapai 200 per 90 mmHg. Petugas kesehatan yang memeriksa langsung mengatakan bahwa angka tersebut sangat tinggi dan memerlukan perhatian serius. Saya pun berpikir, meskipun saya bukan dokter, jelas saja angka tekanan darah seperti itu termasuk kategori sangat tinggi dan dapat menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan, bukan?
Pengalaman ini menjadi bukti bahwa proses verifikasi tidak hanya penting untuk memastikan fasilitas memenuhi standar yang ditetapkan oleh pihak berwenang, tetapi juga memberikan kesempatan bagi kita untuk menyadari kondisi kesehatan diri sendiri yang mungkin belum diketahui sebelumnya. Selain itu, dengan resmi menjadi rujukan BPJS, Rumah Sakit Hermina kini dapat memberikan akses layanan kesehatan yang lebih terjangkau bagi lebih banyak masyarakat, terutama mereka yang tinggal di sekitar lokasi rumah sakit yang sebelumnya mungkin merasa kesulitan karena jadwal jalan kereta yang tidak menentu dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan berstandar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut dan mengurangi kesenjangan akses layanan kesehatan antara daerah perkotaan dan pedesaan.
Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) Kembali Jadi Ancaman Serius
Sementara itu, di wilayah lain di Kabupaten Bekasi, Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) kini kembali menjadi ancaman serius bagi kesehatan anak-anak di tengah masyarakat. Tanpa cakupan imunisasi yang luas dan merata di setiap wilayah, risiko munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti campak, difteri, hingga polio kian nyata dan dapat mengganggu stabilitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Hal tersebut ditegaskan secara tegas oleh Anggota Komisi IX DPR RI, Obon Tabroni, dalam sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang fokus pada pencegahan PD3I melalui imunisasi. Kegiatan ini digelar di Lapangan Serbaguna, Telagamurni, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, pada Sabtu (14/3/2026) dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat mulai dari orang tua, kader kesehatan, hingga perwakilan dari dinas kesehatan daerah.
“Imunisasi adalah upaya orang tua untuk memberikan kekebalan aktif kepada anak. Jadi, jika suatu saat terpapar penyakit, gejalanya bisa diminimalisir dan tidak berakibat fatal atau menyebabkan kematian,” ujar Obon dalam sambutannya. Ia menjelaskan bahwa imunisasi bukan hanya memberikan perlindungan kepada individu yang divaksinasi, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan komunitas secara keseluruhan.
Dalam kegiatan yang digelar bersama Kementerian Kesehatan RI tersebut, Obon merinci secara rinci beberapa jenis penyakit yang masuk dalam kategori PD3I, mulai dari Hepatitis B yang dapat menyerang hati dan menyebabkan komplikasi jangka panjang, polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan layu pada anggota badan, hingga DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) yang masing-masing memiliki risiko bahaya yang tinggi bagi anak-anak. Ia juga menyoroti kasus KLB campak dan rubella yang belakangan ini kembali menunjukkan tren peningkatan di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di beberapa kecamatan di Kabupaten Bekasi.
“Penyakit campak dan rubella sangat berbahaya, karena bisa memicu komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia) hingga radang otak yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan atau bahkan kecacatan permanen pada anak,” jelasnya. Selain itu, Obon juga menjelaskan tentang konsep kekebalan kelompok atau herd immunity yang menjadi salah satu manfaat utama dari program imunisasi skala besar. “Jika cakupan imunisasi di suatu wilayah tinggi – minimal mencapai 95% dari total populasi target – maka penyebaran virus bisa terjaga dengan efektif dan tidak akan terjadi kasus yang lebih berat atau penyebaran yang meluas,” jelas politisi Partai Gerindra tersebut.
Selain membahas tentang jenis-jenis penyakit yang dapat dicegah, Obon juga memaparkan jadwal imunisasi rutin lengkap yang harus diikuti oleh setiap anak, mulai dari bayi baru lahir yang harus mendapatkan vaksin Hepatitis B dosis pertama (HB0) dalam waktu 24 jam setelah lahir, hingga anak usia sekolah kelas 1 dan 5 SD yang mendapatkan vaksin tambahan untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya. Tidak hanya itu, ia juga mengingatkan para ibu dan wanita usia subur tentang pentingnya vaksinasi Tetanus Difteri (TD) yang dapat memberikan perlindungan bagi diri mereka sendiri maupun bagi janin yang dikandungnya, terutama untuk mencegah terjadinya tetanus pada ibu dan bayi saat persalinan.
Ia menekankan bahwa keberhasilan program imunisasi nasional tidak akan tercapai tanpa dukungan penuh dari keluarga dan peran aktif dari kader kesehatan di setiap Posyandu yang ada di pelosok daerah. Obon juga memastikan bahwa seluruh layanan imunisasi yang disediakan di fasilitas kesehatan pemerintah seperti Puskesmas dan Posyandu tidak dipungut biaya sama sekali, sehingga dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Tidak ada kata terlambat untuk memberikan imunisasi kepada anak-anak kita. Pelayanan di Posyandu maupun Puskesmas, seperti Puskesmas Telagamurni yang menjadi contoh dalam kegiatan ini, semuanya gratis dan tersedia untuk semua orang. Ayo kita bersama-sama bawa anak-anak kita untuk mendapatkan hak kesehatannya dan menjaga mereka dari ancaman penyakit yang dapat dicegah dengan mudah,” tutup Obon dalam penutupan kegiatan tersebut.
