Banjarnegara – Kosmiindonesia.com – Aksi demonstrasi yang digelar di halaman Kantor Balai Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, berakhir dengan kericuhan yang memprihatinkan pada Selasa (11/3). Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho yang akrab disapa Hoho Alkaf, mengaku menjadi korban pengeroyokan oleh puluhan orang setelah menyelesaikan penanganan aksi unjuk rasa yang diikuti oleh ratusan anggota dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan sekitarnya. Peristiwa ini segera menjadi sorotan publik dan menyebar luas di media sosial mengingat kiprah Hoho sebagai kepala desa yang aktif dalam mengembangkan desa dan seringkali muncul dalam konten digital yang menarik perhatian masyarakat.
PERISTIWA TERJADI SAAT HOHO HENDAK MENINGGALKAN KANTOR
Peristiwa yang mengguncang masyarakat lokal tersebut terjadi ketika Hoho hendak meninggalkan Kantor Balai Desa Purwasaba setelah menghabiskan sekitar tiga jam untuk menerima dan menangani aspirasi dari massa yang berkumpul. Awalnya, aksi demonstrasi yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB berlangsung dengan kondisi yang cukup tertib. Massa membawa berbagai spanduk dan poster yang menyampaikan tuntutan mereka terkait proses penjaringan perangkat desa yang baru saja menyelesaikan tahap pengumuman hasil akhir pada Senin (10/3) kemarin.
Pada tahap awal, Hoho bersama dengan beberapa perangkat desa telah memberikan kesempatan kepada perwakilan massa untuk menyampaikan pendapat secara tatap muka di ruang rapat balai desa. Pertemuan tersebut berjalan cukup kondusif, dengan Hoho menjelaskan secara rinci mengenai mekanisme seleksi yang telah diterapkan. Namun, suasana mulai berubah memanas ketika massa yang berkumpul di luar balai desa mulai tidak sabar dan mendesak agar seluruh proses penjaringan yang telah dilaksanakan dibatalkan secara total.
Setelah menyelesaikan pertemuan dengan perwakilan massa dan merasa telah melakukan segala upaya untuk menjelaskan kondisi, Hoho memutuskan untuk pulang dan mulai berjalan menuju kendaraannya yang berada di halaman luar balai desa. Namun, saat ia memasuki area parkir, secara tiba-tiba sejumlah orang dari kerumunan massa mendekatinya dengan cepat dan langsung melakukan serangan fisik. Dalam keterangannya yang disampaikan melalui akun media sosial pribadi dan kemudian viral di berbagai platform digital seperti Instagram dan TikTok, Hoho mengungkapkan kronologi kejadian yang menimpanya.
“Saya hendak keluar dari balai desa setelah merasa sudah memberikan penjelasan yang jelas kepada perwakilan massa, tapi tiba-tiba saja diserang dan dikeroyok oleh puluhan orang yang tiba-tiba datang dari arah belakang dan samping,” ucapnya dalam unggahan video yang diunggahnya bersama dengan bukti kondisi kacamata yang pecah dan pakaian yang robek. Akibat serangan yang tidak terduga tersebut, kacamata yang dikenakan Hoho pecah di bagian lensa dan bingkai logam, bahkan sebagian pecahan kaca hampir mengenai area matanya. Selain itu, baju kerja dan celana yang dikenakannya juga robek di beberapa bagian akibat tarikan dan benturan yang terjadi selama sekitar lima menit sebelum akhirnya ada sebagian massa yang membantu menghentikan serangan tersebut. Beberapa bagian tubuh Hoho, seperti lengan kiri dan bagian punggung, juga mengalami memar dan lecet ringan, meskipun menurutnya kondisi fisiknya tidak dalam keadaan serius dan masih dapat melakukan aktivitas.
HOHO KRITIK APARAT KEAMANAN YANG DINILAI TIDAK SIGAP
Salah satu poin yang menjadi sorotan utama dari insiden ini adalah sikap aparat keamanan yang berada di lokasi saat kericuhan terjadi. Hoho Alkaf menyoroti bahwa pihak kepolisian yang telah ditempatkan untuk mengamankan lokasi aksi demonstrasi sejak pagi hari tidak memberikan perlindungan maksimal ketika serangan terhadap dirinya terjadi. Menurutnya, aparat yang ada di lokasi sepertinya terkejut dengan munculnya kericuhan dan tidak dapat dengan cepat mengambil tindakan untuk menghentikan serangan yang dilakukan oleh sebagian massa yang tidak terkendali.
“Saya sangat kecewa dengan tanggapan aparat keamanan pada saat itu. Mereka seharusnya dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya kericuhan dan memberikan perlindungan yang maksimal kepada semua pihak, termasuk saya sebagai kepala desa yang sedang menangani situasi tersebut,” ujar Hoho dalam wawancara singkat dengan awak media lokal setelah kejadian. Ia bahkan menyatakan bahwa dirinya telah mengumpulkan bukti berupa rekaman video dari beberapa saksi mata dan akan melaporkan oknum aparat yang bertugas saat kejadian tersebut ke Direktorat Profesi dan Pembinaan (Propam) Mabes Polri. Tujuannya adalah untuk melakukan penyelidikan mendalam terkait tanggung jawab aparat dalam menangani situasi yang terjadi dan memastikan bahwa hal serupa tidak akan terulang di masa mendatang.
Hingga saat ini, pihak Kepolisian Resor Kabupaten Banjarnegara belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pengeroyokan yang menimpa Hoho Alkaf. Namun, salah satu petugas yang bertugas di lokasi saat kejadian menyampaikan secara tidak resmi bahwa mereka telah mencoba mengendalikan situasi namun terbatas oleh jumlah massa yang banyak dan kondisi yang terjadi secara tiba-tiba. Pihak kepolisian juga menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan mendalam terkait peristiwa tersebut dan akan mengumumkan hasil penyelidikan setelah memiliki data dan bukti yang cukup untuk dipaparkan ke publik.
DEMONSTRASI DIPICU KEKECEWAAN CALON PERANGKAT DESA YANG TIDAK LOLOS
Menurut keterangan yang disampaikan Hoho Alkaf, aksi demonstrasi yang berujung ricuh tersebut dipicu oleh kekecewaan salah satu anggota LSM yang telah mendaftarkan diri sebagai calon perangkat desa namun tidak lolos dalam proses seleksi yang telah berlangsung selama hampir dua minggu. Massa yang diduga merupakan pendukung dari calon tersebut menuntut agar tahapan seleksi yang sudah sampai pada tahap pengumuman hasil dibatalkan dan diulang kembali dari awal dengan mekanisme yang mereka klaim lebih adil dan terbuka.
Hoho menjelaskan bahwa proses penjaringan perangkat desa yang telah dilaksanakan telah dilakukan sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku di tingkat desa, yang telah disepakati bersama dengan berbagai unsur masyarakat dan dinas terkait di Kabupaten Banjarnegara. Seleksi telah melalui beberapa tahapan yang meliputi pendaftaran online dan offline, tes administrasi untuk memverifikasi kelengkapan dokumen, tes wawancara yang dilakukan oleh tim seleksi independen, serta evaluasi keterampilan dan kompetensi calon perangkat desa melalui serangkaian asesmen praktis. Seluruh tahapan tersebut dilakukan dengan didampingi oleh perwakilan masyarakat, tokoh agama dari berbagai kepercayaan, serta perwakilan dari Dinas Pemerintahan Desa dan Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Banjarnegara untuk memastikan transparansi dan objektivitas.
“Kami telah menjalankan seluruh proses dengan sebaik mungkin dan sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan bersama. Semua tahapan dilakukan secara terbuka dan dapat diawasi oleh masyarakat, sehingga tidak ada ruang untuk kecurangan atau praktik yang tidak jujur,” jelas Hoho. Ia menegaskan dengan tegas bahwa tidak akan membatalkan hasil seleksi perangkat desa hanya karena tekanan dari pihak tertentu. “Proses penjaringan perangkat desa sudah sesuai mekanisme. Tidak mungkin dibatalkan hanya karena tekanan,” tegasnya dengan nada tegas.
Selain itu, Hoho juga menjelaskan bahwa pihak pemerintah desa telah menyediakan mekanisme banding bagi calon yang tidak lolos dalam seleksi, dengan memberikan kesempatan untuk mengajukan keluhan dan bukti jika merasa ada ketidakadilan dalam proses seleksi. Namun, hingga saat kejadian terjadi, belum ada satu pun calon yang mengajukan banding melalui mekanisme yang telah ditentukan. Hoho juga telah meminta perlindungan hukum atas insiden yang dialaminya dan telah berkonsultasi dengan tim hukum untuk menindaklanjuti kasus pengeroyokan ini secara hukum, dengan harapan agar pelaku yang melakukan tindakan kekerasan tersebut dapat mendapatkan sanksi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
MASYARAKAT BERHARAP MASALAH DAPAT DISELESAIKAN DENGAN DAMAI
Insiden pengeroyokan terhadap Hoho Alkaf telah menjadi perbincangan luas di berbagai kalangan masyarakat, baik secara lokal maupun melalui platform media sosial. Banyak warga Desa Purwasaba yang memberikan dukungan dan doa kepada Hoho, mengakui bahwa selama memimpin desa, Hoho telah melakukan banyak perbaikan dan program yang bermanfaat bagi kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakat. Banyak juga netizen yang menuntut agar pelaku yang melakukan tindakan kekerasan tersebut segera ditangkap dan diadili sesuai hukum agar tidak ada lagi tindakan yang mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat.
Di sisi lain, juga ada sebagian masyarakat yang meminta agar pihak berwenang melakukan penyelidikan yang objektif dan tidak terpengaruh oleh opini publik atau tekanan dari berbagai pihak. Mereka berharap bahwa kebenaran yang sebenarnya terkait peristiwa tersebut dapat ditemukan dan semua pihak yang terlibat mendapatkan penanganan yang adil. Banyak pihak yang juga berharap bahwa masalah yang muncul terkait proses penjaringan perangkat desa dapat diselesaikan dengan cara yang damai dan sesuai dengan aturan yang berlaku, sehingga tidak ada lagi tindakan kekerasan yang terjadi dan Desa Purwasaba dapat kembali fokus pada pembangunan dan program-program yang telah direncanakan untuk kemajuan desa.
Hingga saat ini, situasi di sekitar Kantor Balai Desa Purwasaba telah kembali kondusif dan aman dengan adanya pengawasan yang lebih ketat dari pihak kepolisian dan aparat keamanan lainnya. Pihak pemerintah desa juga telah membentuk tim khusus untuk menangani segala bentuk keluhan dan aspirasi masyarakat terkait proses penjaringan perangkat desa, dengan harapan bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan baik dan tidak menimbulkan keresahan lagi di tengah masyarakat.
